Terdakwa kasus dugaan suap pengurusan sengketa pemilihan kepala daerah Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah di Mahkamah Konstitusi (MK), Chairun Nisa saat menjalani sidang perdana pembacaan dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana korupsi (Tipikor), Jakarta (8/1). Politisi Partai Golkar tersebut didakwa bersama-sama dengan mantan ketua MK, Akil Mochtar menerima suap terkait gugatan pilkada Kabupaten Gunung Mas. TEMPO/Dhemas Reviyanto

Terdakwa kasus dugaan suap pengurusan sengketa pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah di MK, Chairun Nisa saat menjalani sidang perdana pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta (8/1). Chairun Nisa didakwa bersama-sama dengan Akil Mochtar menerima suap SGD 294,050 ribu, USD 22 ribu, dan Rp 766 ribu atau setara Rp 3 miliar, serta Rp 75 juta dari Hambit Bintih dan Cornelis Nalau . TEMPO/Dhemas Reviyanto

Terdakwa Chairun Nisa saat menjalani sidang perdana pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta (8/1). Pemberian uang suap ini diduga agar Akil mau mempengaruhi putusan gugatan pilkada Kabupaten Gunung Mas di MK dan menguatkan keputusan Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Gunung Mas. TEMPO/Dhemas Reviyanto

Terdakwa kasus dugaan suap pengurusan sengketa pemilihan kepala daerah Kabupaten Gunung Mas, Chairun Nisa saat menjalani sidang perdana pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta (8/1). Chairun Nisa diancam hukuman maksimal 20 tahun penjara. TEMPO/Dhemas Reviyanto

Terdakwa kasus dugaan suap pengurusan sengketa pilkada Kabupaten Gunung Mas, Chairun Nisa saat menjalani sidang perdana pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta (8/1). TEMPO/Dhemas Reviyanto

Terdakwa kasus dugaan suap pengurusan sengketa pilkada Gunung Mas, Chairun Nisa seusai menjalani sidang perdana pembacaan dakwaan di Pengadilan Tpikor, Jakarta (8/1). TEMPO/Dhemas Reviyanto