Seorang warga menanam bibit mangrove di Pulau Tanakeke. Penanaman mangrove membantu mengembalikan ekosistem laut, dan mengurangi abrasi pantai. Pulau Tanakeke, Sulsel, 23 Mei 2015. TEMPO/Hariandi Hafid

Dua orang bocah bermain di antara pohon mangrove di Pulau Tanakeke. Luas mangrove di Indonesia 9,2 juta hektar, terdiri dari 3,7 juta ha di kawasan hutan dan 5,5 juta ha di luar kawasan hutan. Namun, 43 persen (1,6 juta ha) mangrove di kawasan hutan dan 67 persen (3,7 ha) di luar hutan rusak antara lain akibat eksploitasi, alih fungsi, dan pencemaran. Pulau Tanakeke, Sulsel, 23 Mei 2015. TEMPO/Hariandi Hafid

Sejumlah warga tengah menanam bibit mangrove di Pulau Tanakeke. Data dari organisasi nirlaba Oxfam menunjukan, sebelum tahun 1980-an, diperkirakan di Kepulauan Tanakeke terdapat lahan mangrove seluas 1.776 hektar, yang kemudian menyusut menjadi 500 hektar akibat kerusakan lingkungan. Pulau Tanakeke, Sulsel, 23 Mei 2015. TEMPO/Hariandi Hafid

Seorang warga memperlihatkan bibit mangrove yang akan ditanam. Abrasi laut dapat diminimalkan dengan menanam bibit mangrove. Pulau Tanakeke, Sulsel, 23 Mei 2015. TEMPO/Hariandi Hafid

Sejumlah warga menanam bibit mangrove atau tanaman bakau. Kondisi hutan mangrove di Indonesia terus mengalami kerusakan, dan pengurangan luas dengan kehancuran lahan mencapai 530.000 ha/tahun. Sementara laju penambahan luas areal rehabilitasi mangrove yang dapat terealisasi hanya sekitar 1.973 ha/tahun. Pulau Tanakeke, Sulsel, 23 Mei 2015. TEMPO/Hariandi Hafid

Seorang warga menanam bibit mangrove di Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulsel, 23 Mei 2015. Tanaman ini sanggup menghentikan abrasi laut, dan menjaga keseimbangan ekosistem laut. TEMPO/Hariandi Hafid