Astronot Aidyn Aimbetov dari Kazakhstan, Sergei Volkov dari Rusia dan Andreas Mogensen dari Denmark, saat memasuki roket Soyuz TMA-18M. Rencananya ketiga astronot ini akan tinggal di stasiun luar angkasa ISS. Kazakhstan, 2 September 2015. REUTERS / Shamil Zhumatov

Sebuah kendaraan tempur militer Rusia, mengawal proses peluncuran roket Soyuz TMA-18M. Rusia memiliki sistem peluncuran roket yang lebih sederhana, dibandingkan dengan sistem peluncuran milik NASA Amerika. Kazakhstan, 2 September 2015. REUTERS / Shamil Zhumatov

Sejumlah fotografer mengabadikan momen ketika roket Soyuz TMA-18M mengudara. Wilayah Baikonur dahulunya adalah kota pertambangan, namun pada zaman Uni Soviet wilayah ini sering dijadikan tempat uji senjata rahasia. Kazakhstan, 2 September 2015. REUTERS / Shamil Zhumatov

Roket Soyuz TMA-18M meluncur menukik ke udara dengan kecepatan penuh. Wilayah ini sering dijadikan tempat peluncuran roket bagi lembaga penerbangan antariksa luar angkasa Rusia. Kazakhstan, 2 September 2015. REUTERS / Shamil Zhumatov

Roket Soyuz TMA-18M meluncur dengan tenaga penuh, terlihat dari lidah api pada bagian belakang Soyuz. Amerika dan Rusia memiliki teknik peluncuran roket yang berbeda, Amerika lebih mengandalkan pesawat ulang alik sedangkan Rusia bergantung kepada roket pendorong tunggal. Kazakhstan, 2 September 2015. REUTERS / Shamil Zhumatov

Roket luar angkasa Soyuz TMA-18M meluncur ke udara, di pusat peluncuran kosmodrom Baikonur. Roket ini membawa 3 orang astronot Aidyn Aimbetov dari Kazakhstan, Sergei Volkov dari Rusia dan Andreas Mogensen dari Denmark. Kazakhstan, 2 September 2015. REUTERS / Shamil Zhumatov