Warga dan keluarga korban penyanderaan Abu Sayyaf, Bayu Oktavianto, melakukan salat hajat atas pembebasan sandera kelompok di Miliran, Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, 1 Mei 2016. Keluarga melakukan doa bersama atas pembebasan 10 ABK WNI dengan selamat. ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

Rahayu (47) ibu dari Bayu Oktavianto, menunjukkan putranya saat menyaksikan berita televisi pembebasan korban sandera Abu Sayyaf di Miliran, Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Sebanyak 10 ABK berhasil dibebaskan dengan proses negosiasi tanpa uang tebusan. ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

Sutomo (48) ayah dari korban penyanderaan, Bayu Oktavianto, di samping televisi yang memberitakan pembebasan sandera Abu Sayyaf di Miliran, Delanggu, Klaten, 1 Mei 2016. Sepuluh WNI tiba di Jakarta pada Ahad malam. ANTARA/Aloysius Jarot

Mansyur Halide (53) ayah dari Wawan Saputera, salah satu sandera Abu Sayyaf menunjukkan foto anaknya di rumahnya kawasan Antang, Makassar, 1 Mei 2016. Saat ini 10 ABK tersebut sedang menjalani pemeriksaan di RSPAD Gatot Soebroto. TEMPO/Iqbal Lubis

Mansyur Halide (kiri), bersama istrinya Ratnawati Nompo (kanan), menonton televisi sambil memegang foto Wawan Saputera, korban sandera Abu Sayyaf di Makassar, Minggu 1 Mei 2016. Kelompok militan sempat meminta uang tebusan senilai Rp 14,2 miliar untuk pembebasan 10 ABK tersebut. TEMPO/Iqbal Lubis

Mansyur Halide (53), menunjukan foto anaknya, Wawan Saputera, di depan kapal Brahma, di rumahnya kawasan Antang, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu 1 Mei 2016. Pihak keluarga berharap dapat berkumpul lagi dengan 10 ABK tersebut. TEMPO/Iqbal Lubis