Kamis, 21 Juni 2018

Suasana matahari terbit dari area Pasar Bubrah, Taman Nasional Gunung Merapi, Boyolali, Jawa Tengah, 21 Oktober 2017. Salah satu gunung yang masih aktif ini pernah melutus secara dasyat pada 15-20 April 1872, dengan mengeluarkan awan panas dan material vulkanik menutupi seluruh pemukiman yang berada di ketinggian di atas 1.000 meter mdpl. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

Seorang pendaki melewati jalur berdebu di Taman Nasional Gunung Merapi, Boyolali, Jawa Tengah, 21 Oktober 2017. Gunung Merapi kembali meletus dahsyat pada tahun 2010, dengan lebih dari 150 juta meter kubik material dimuntahkan dari kubah lava Gunung Merapi. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

Sejumlah pendaki menuju area Pasar Bubrah di bawah puncak Taman Nasional Gunung Merapi, Boyolali, Jawa Tengah, 21 Oktober 2017. Walau dianggap sebagai gunung yang paling aktif ini, gunung Merapai masih menjadi gunung favorit bagi para pendaki maupun wisatawan mancanegara untuk sekadar menikmati suasana matahari terbit dari atas ketinggian. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

Puncak Gunung Merapi dari area Pasar Bubrah, Boyolali, Jawa Tengah, 21 September 2017. Bagi para pendaki yang ingin mendaki ke gunung dengan ketinggian 2.968 mdpl ini disarankan mendaki dari Pos SAR Barameru di Selo, Boyolali, Jawa Tengah. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

Pendaki mancanegara menuju area Pasar Bubrah di bawah puncak Taman Nasional Gunung Merapi, Boyolali, Jawa Tengah, 21 Oktober 2017. Pendakian Gunung Merapi disarankan tidak mencapai bibir kawah dan hanya sampai Pasar Bubrah, karena kondisi morfologi puncak Gunung Merapi tidak stabil dan rawan longsor. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

Papan selamat datang di Taman Nasional Gunung Merapi, Boyolali, Jawa Tengah, 21 September 2017. Guna mendaki Gunung Merapi, Taman Nasional Gunung Merapi membuka jalur pendakian baru melalui Sapuangin, Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, dengan menghabiskan waktu mendaki sekitar 9-14 jam. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah