Jumat, 25 Mei 2018

Media online Sputniknews, 7 Desember 2017, menulis tentang keraguan Marco Langbroek, seorang pelacak satelit mata-mata dan arkeolog paleolitik, terhadap keaslian foto peluncuran rudal balistik terbaru Korea Utara, Hwasong-15. Menurut Marco Langbroek foto tersebut telah mengalami sentuhan photoshop. REUTERS/KCNA

Marco Langbroek menulis bahwa ia menemukan Korea Utara mengutak-atik foto peluncuran Hwasong-15. Dua gambar dari sudut pandang yang sama, tapi berbeda latar belakang bintangnya. Satu foto berlatar Orion (Tenggara), satu lagi Andromeda (Barat Laut). twitter/Marco_Langbroek

Masih menurut Marco Langbroek, Korea Utara juga mebalik horisontal satu foto Hwasong-15, menjadi dua foto (atas dan bawah).Langbroek menunjuk asap yang keluar dari rudal dan angka ditubuh rudal yang dihilangkan, sehingga sepeti dari sudut pandang berlawanan. twitter/Marco_Langbroek

Marco Langbroek menulis bahwa kedua foto (Selatan-Tenggara) berlatar gugus bintang Orion dan Canis major (tapi Sirius hilang). Tapi Langbroek tidak menyangkal bahwa peluncuran rudal Hwasong-15 itu benar-benar terjadi. twitter/Marco_Langbroek

Marco Langbroek berasumsi bahwa alasan yang paling mungkin Korea Utara melakukannya adalah estetika. Sebuah ICBM yang meluncur ke arah bintang menjadi gambar propaganda yang bagus, dan mereka tidak peduli untuk melakukannya dengan benar. twitter/Marco_Langbroek

Terlepas dari soal sentuhan photoshop, peluncuran rudal balistik Hwasong-15 telah menghebohkan dunia, karena rudal itu mampu menempuh jarak 13.000 km, atau mencapai Amerika Serikat. Hwasong-15 menunjukan kemajuan teknologi rudal balistik yang telah dicapai Korea Utara. REUTERS/KCNA