Hulu Aydogdu (87), memperlihatkan tatonya di kediamannya di desa Kisas, Turki, 22 November 2017. Puluhan tahun lalu, para gadis Turki yang berusia antara 10 hingga 16 tahun biasa menato tubuhnya sebagai riasan untuk menarik perhatian lawan jenis. REUTERS/Umit Bektas

Ayse Yusufoglu (84) dan adiknya, Duri Yusufoglu (82) menunjukkan cara mereka menato, di kediamannya di desa Alakus, dekat Kiziltepe, Turki, 21 November 2017. Pada saat gadis, mereka membuat tato dengan tinta yang terbuat dari jelaga yang dilarutkan dengan ASI seorang ibu yang menyusui bayi perempuan. REUTERS/Umit Bektas

Ayse Yusufoglu (84) dan adiknya, Duri Yusufoglu (82) menunjukkan cara mereka menato, di kediamannya di desa Alakus, dekat Kiziltepe, Turki, 21 November 2017. Penggunaan ASI dari ibu yang menyusui bayi perempuan lantaran warna yang dihasilkan lebih bagus dibanding ibu yang menyusui bayi laki-laki yang menghasilkan warna lebih gelap. REUTERS/Umit Bektas

Ayse Yusufoglu (84) dan adiknya, Duri Yusufoglu (82) menunjukkan cara mereka menato, di kediamannya di desa Alakus, dekat Kiziltepe, Turki, 21 November 2017. Dulu mereka terbiasa menato satu sama lain dengan menggunakan jarum dan tinta dari jelaga serta ASI. REUTERS

Fatma Dogru (70) menunjukkan tato pada tangannya, di kediamannya di desa Kisas, Turki, 22 November 2017. Mereka biasa menggambar motif sederhana dari dunia sekitar mereka, seperti matahari, bulan dan barang-barang rumah tangga seperti sisir. REUTERS/Umit Bektas

Zehra Karaaslan (62) menunjukkan tato di wajahnya, di kediamannya di desa Kisas, Turki, 22 November 2017. Beberapa tahun belakangan, otoritas Muslim Turki telah melarang penggunaan tato pada wanita Muslim. REUTERS/Umit Bektas