Ayat Ullah, pengungsi Rohingya berusia 7 bulan yang menderita gizi buruk, diperiksa di pusat Perlawanan Terhadap Kelaparan di kamp Kutupalong, Cox's Bazar, Bangladesh, 7 Desember 2017. REUTERS/Damir Sagolj

Seorang pengungsi Rohingya menggendong anaknya Robi Alam, berusia 7 bulan yang menderita gizi buruk dan penyakit kulit, di pusat Perlawanan Melawan Kelaparan, di kamp Kutupalong, dekat Cox's Bazar, Bangladesh 7 Desember 2017. REUTERS/Damir Sagolj

Ayat Ullah, anak pengungsi Rohingya yang baru berusia 7 bulan yang mengalami malnutrisi saat diberi makan di pusat Perlawanan Terhadap Kelaparan di kamp Kutupalong, Cox's Bazar, Bangladesh, 7 Desember 2017.

Seorang pengungsi Rohingya menggendong anaknya Robi Alam, berusia 7 bulan yang menderita gizi buruk dan penyakit kulit, di pusat Perlawanan Melawan Kelaparan, di kamp Kutupalong, dekat Cox's Bazar, Bangladesh 7 Desember 2017. REUTERS/Damir Sagolj

Seorang bayi pengungsi Rohingya ditimbang berat badannya saat diperiksa kemungkinan adanya tanda malnutrisi di pusat Aksi Melawan Kelaparan di kamp Kutupalong, Cox's Bazar, Bangladesh, 7 Desember 2017. REUTERS/Damir Sagolj

Anak-anak pengungsi Rohingya dibawa untuk diperiksa kemungkinan tanda malnutrisi di pusat Perlawanan Terhadap Kelaparan di kamp Kutupalong, Cox's Bazar, Bangladesh, 7 Desember 2017. REUTERS/Damir Sagolj