Seorang pengungsi Rohingya menangis karena dia telah kehilangan suami, anak perempuan dan menantunya yang dibunuh oleh militer di Myanmar, 27 Oktober 2017. Tahun 2017 diwarnai dengan terjadinya kekerasan militer terhadap etnis muslim Rohingya di Myanmar. REUTERS/Hannah McKay

Seorang wanita membawa anaknya yang sakit di sebuah kamp pengungsi di Cox's Bazar, Bangladesh, 26 September 2017. Dia telah menunggu sejak matahari terbit untuk mendapatkan bantuan untuk anaknya yang sakit. REUTERS/Cathal McNaughton

Pemandangan udara dari sebuah desa Rohingya yang terbakar di dekat Maungdaw, sebelah utara Negara Bagian Rakhine, Myanmar, 27 September 2017. REUTERS/Soe Zeya Tun

Fotografer membantu pengungsi Rohingya untuk keluar dari Sungai Nad saat mereka melintasi perbatasan Myanmar-Bangladesh di Palong Khali, dekat Cox's Bazar, Bangladesh, 1 November 2017. Ratusan ribu warga Rohingya mengungsi dari negara bagian Rakhine untuk menghindari kekerasan. REUTERS/Hannah McKay

Pengungsi Rohingya berseteru saat mereka menunggu untuk menerima bantuan di Cox's Bazar, Bangladesh, 24 September 2017. Pada hari-hari pertama kedatangan bantuan terjadi sejumlah kekacauan karena kekurangan logistik yang dialami pengungsi. REUTERS/Cathal McNaughton

Hamida, seorang wanita pengungsi Rohingya, menangisi bayinya yang meninggal saat kapal yang dinaikinya terbalik di pantai Shah Porir Dwip, di Teknaf, Bangladesh, 14 September 2017. Para pengungsi Rohingya mempertaruhkan nyawa mereka untuk melarikan diri dari Myanmar. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain