Relawan dari Bali Russ meniupkan suntikan bius kepada anjing yang akan dievakuasi menggunakan motor di Sebudi, Karangasem, Bali, 9 Desember 2017. Letusan Gunung Agung membuat relawan Bali Rumah Singgah Satwa (Bali Russ) memasuki dusun-dusun di zona bahaya untuk memberi makan hewan-hewan kelaparan yang ditinggal majikannya mengungsi. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Memasuki perkebunan salak warga untuk mengevakuasi satwa yang sakit dari zona bahaya Gunung Agung di Sebudi, Karangasem, Bali, 9 Desember 2017. Relawan Bali Russ seakan menjadi majikan sementara para satwa seperti anjing, kucing serta unggas yang tak pernah mendapatkan makan sehari-hari dari pemiliknya yang terpaksa meninggalkan rumah. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Relawan membawa anjing yang telah dimasukkan ke dalam kandang untuk dievakuasi dari zona bahaya di Sebudi, Karangasem, Bali, 9 Desember 2017. Bukan sekadar memberi makan lalu pergi, para relawan itu juga mengevakuasi satwa yang sakit, hamil dan masih bayi untuk diobati dan dibawa ke posko penampungan. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Anak anjing dibawa menggunakan ember saat dievakuasi dari zona bahaya Gunung Agung di Sebudi, Karangasem, Bali, 9 Desember 2017. Hanya memberi makan hewan saja sangatlah mudah, namun akses menuju dusun-dusun yang sulit dilalui ditambah debu vulkanis yang menjadi lumpur di jalanan usai tersiram hujan menjadi tantangan mereka untuk menghidupi satwa. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Relawan menggendong anjing yang dievakuasi dari zona bahaya Gunung Agung di Sebudi, Karangasem, Bali, 9 Desember 2017. Dalam usaha menyelamatkan para satwa, relawan pun terkadang harus mempertaruhkan nyawanya karena harus masuk ke lokasi-lokasi berjarak lima hingga tiga kilometer dari kawah Gunung Agung yang masih aktif menunjukkan aktivitas. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Mobil yang digunakan relawan Bali Rumah Singgah Satwa (Bali Russ) untuk membawa makanan dan mengevakuasi satwa dari zona bahaya Gunung Agung di Karangasem, Bali, 9 Desember 2017. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A