Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan bersama penyidik, menunjukkan barang bukti uang hasil operasi tangkap tangkap (OTT) Kendari, di gedung KPK, Jakarta, 9 Maret 2018. Dalam OTT ini penyidik berhasil mengamankan uang suap sebesar Rp.2,798.300 miliar. TEMPO/Imam Sukamto

Penyidik KPK menunjukkan barang bukti uang suap Rp 2,8 miliar hasil OTT Kendari, di gedung KPK, Jakarta, 9 Maret 2018. KPK telah menetapkan empat tersangka dalam OTT ini. TEMPO/Imam Sukamto

Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan (kanan) bersama juru bicara Febri Diansyah dalam rilis uang suap OTT Wali kota Kendari, di gedung KPK, Jakarta, 9 Maret 2018. Empat tersangka OTT Kendari antara lain: Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra, calon Gubernur Sulawesi Tenggara, Asrun, Direktur Utama PT Sarana Bangun Nusantara Hasmun Hamzah dan pihak swasta Fatmawaty Faqih. TEMPO/Imam Sukamto

Penyidik KPK menyusun barang bukti uang yang disita dari pengembangan operasi tangkap tangan KPK terhadap Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra dan ayahnya calon gubernur Sultra Asrun di gedung KPK, Jakarta, 9 Maret 2018. Uang suap tersebut diduga akan digunakan untuk keperluan biaya politik pemilihan kepala daerah. ANTARA/Wahyu Putro A

Penyidik KPK menyusun barang bukti uang yang disita dalam OTT Kendari di gedung KPK, Jakarta, 9 Maret 2018. KPK menemukan barang bukti suap sebanyak Rp2,798 miliar dari total Rp2,8 miliar kepada Adriatma Dwi Putra dan Asrun dari Direktur Utama PT Sarana Bangun Nusantara, Hasmun Hamzah. ANTARA

Penyidik KPK, menunjukkan barang bukti uang satu troli hasil OTT Kendari, di gedung KPK, Jakarta, 9 Maret 2018. Kasus suap dengan nilai sebesar Rp 2,8 miliar untuk pengadaan barang dan jasa tahun 2017-2018. TEMPO/Imam Sukamto