Seorang pria yang cacat karena ledakan ranjau darat membasuh kakinya yang terpotong di kediamannya di desa Bitr, di distrik Al-Tanouma, timur Basra, Irak, 25 Februari 2018. Nama desa yang memiliki arti amputasi itu merupakan desa yang dipenuhi korban ranjau darat hingga kaki mereka harus diamputasi. REUTERS/Essam Al-Sudani

Petugas mencari ranjau darat yang kemungkinan masih tertanam di desa Bitr, di distrik Al-Tanouma, timur Basra, Irak, 25 Februari 2018. Ratusan warga desa kehilangan anggota tubuh, kaki dan atau tangan, akibat ranjau dan bom-bom yang belum meledak dari Perang Iran-Irak 1980-1988. REUTERS/Essam Al-Sudani

Petugas mencari ranjau darat yang kemungkinan masih tertanam di desa Bitr, di distrik Al-Tanouma, timur Basra, Irak, 25 Februari 2018. Irak meminta masyarakat internasional membantu membersihkan sekitar 20 juta ranjau darat dan bom curah di wilayahnya. REUTERS/Essam Al-Sudani

Seorang warga bernama Rafed (kiri) dengan kaki yang telah diamputasi, bersepeda di desa Bitr, di distrik Al-Tanouma, timur Basra, Irak, 25 Februari 2018. Sekitar 8.000 orang tewas akibat ranjau dan bom curah itu dan seperempat dari jumlah korban itu merupakan anak-anak. REUTERS/Essam Al-Sudani

Sejumlah warga dengan kaki yang telah diamputasi, berbincang di desa Bitr, di distrik Al-Tanouma, timur Basra, Irak, 25 Februari 2018. Ranjau darat yang tertanam di wilayah tersebut merupakan warisan dari perang antara Iran dan Iran pada 1980-1988 serta Perang Teluk 1990-1991. REUTERS/Essam Al-Sudani

Seorang wanita bersama suaminya menunjukkan kakinya yang telah diamputasi, di kediamannya di desa Bitr, di distrik Al-Tanouma, timur Basra, Irak, 25 Februari 2018. REUTERS/Essam Al-Sudani