Sabtu, 20 Oktober 2018

Seorang pria berdoa di museum Choeung Ek selama "Hari Kemarahan" di mana orang berkumpul untuk mengingat para korban tewas selama rezim komunis Khmer Merah, di Phnom Penh, Kamboja, 20 Mei 2018. REUTERS/Samrang Pring

Para aktor memainkan drama berdasarkan rezim Khmer Merah selama "Hari Kemarahan" tahunan di mana orang berkumpul untuk mengingat para korban tewas oleh rezim komunis Khmer Merah, di Phnom Penh, Kamboja, 20 Mei 2018. REUTERS/Samrang Pring

Seorang wanita berdoa di museum Choeung Ek selama "Hari Kemarahan", di mana orang berkumpul untuk menghormati para korban tewas selama rezim komunis Khmer Merah, di Phnom Penh, Kamboja, 20 Mei 2018. REUTERS/Samrang Pring

Para aktor memainkan drama berdasarkan rezim Khmer Merah selama "Hari Kemarahan" di mana orang berkumpul untuk memperingati para korban tewas selama rezim komunis Khmer Merah, di Phnom Penh, Kamboja, 20 Mei 2018. REUTERS/Samrang Pring

Orang-orang berdoa di Museum Choeung Ek selama "Hari Kemarahan", di mana orang berkumpul untuk menghormati para korban tewas selama rezim komunis Khmer Merah, di Phnom Penh, Kamboja, 20 Mei 2018. REUTERS/Samrang Pring

Sejumlah Biksu Budha menghadiri "Hari Kemarahan" di mana orang berkumpul untuk memperingati para korban tewas selama rezim komunis Khmer Merah, di Phnom Penh, Kamboja, 20 Mei 2018. REUTERS/Samrang Pring