Selasa, 16 Oktober 2018

Yousef Nawaser, pengungsi dari Kota Daraa, Suriah, memperbaiki sepatu di jalanan utama di pasar Mafraq, Yordania dekat perbatasan Suriah, Senin, 30 Juli 2018. Ribuan pengungsi Suriah menjalani aktivitas sehari-hari di beberapa kamp pengungsian di Yordania sejak pertempuran di negara mereka. REUTERS/Muhammad Hamed

Ahmad Hariri, pengungsi dari Kota Daraa, Suriah, menjahit di gerainya di kamp pengungsian Al-Zaatari di Mafraq, Yordania dekat perbatasan Suriah, Senin, 30 Juli 2018. Al-Zaatari merupakan kamp pengungsi Suriah terbesar di Yordania. REUTERS/Muhammad Hamed

Pasangan pengungsi dari Kota Daraa, Suriah, beristirahat di rumahnya di kamp pengungsian Al-Zaatari di Mafraq, Yordania dekat perbatasan Suriah, Senin, 30 Juli 2018. Warga Yordania juga turut membantu pengungsi Suriah yang terlantar di perbatasan. REUTERS/Muhammad Hamed

Seorang pengungsi Suriah berjalan dari kamp pengungsian Al-Zaatari menuju pasar di Mafraq, Yordania dekat perbatasan Suriah, Senin, 30 Juli 2018. Setelah ditutup sejak 2011 karena konflik di Suriah, pemerintah Yordania berencana akan membuka akses perbatasan dua negara tersebut. REUTERS/Muhammad Hamed

Anak-anak pengungsi Suriah bermain di kamp pengungsian Al-Zaatari di Mafraq, Yordania dekat perbatasan Suriah, Senin, 30 Juli 2018. Meski tinggal di kamp pengungsian, anak-anak Suriah tetap mendapat pendidikan yang diberikan dari para relawan. REUTERS/Muhammad Hamed

Mohammed Hariri, pengungsi dari Kota Daraa, Suriah, bekerja di kedai makanan miliknya di pasar Mafraq, Yordania dekat perbatasan Suriah, Senin, 30 Juli 2018. REUTERS/Muhammad Hamed