Ekspresi wartawan Reuters, Kyaw Soe Oo (kiri) dan Wa Lone, saat keluar dari ruang sidang setelah menjalani sidang vonis di Yangon, Myanmar, Senin, 3 September 2018. Keduanya divonis 7 tahun penjara karena dinilai melanggar Undang-Undang Rahasia Myanmar terkait dengan pemberitaan etnis Rohingya. AP Photo/Thein Zaw

Wartawan Reuters, Wa Lone, saat bertugas di Sittwe, Rakhine, pada 18 September 2017. Wa Lone dan Kyaw Soe Oo mengumpulkan bukti pembantaian 10 muslim Rohingya (termasuk anak-anak) yang dilakukan oleh tentara Myanmar di Desa Inn Dinn, Rakhine, pada 1-2 September 2017. REUTERS/Andrew Marshall

Wa Lone dan Kyaw Soe Oo merasa dijebak setelah bertemu dengan seorang polisi di Unit Keamanan Polisi di Yangon, Myanmar (kiri), yang memberikan mereka sejumlah dokumen terkait investigasi tentang pembantaian Rohingya. Tak lama kemudian, keduanya ditangkap di sebuah kafe (kanan) oleh polisi berpakaian preman pada 12 Desember 2017 dengan barang bukti dokumen-dokumen tersebut. REUTERS

Foto yang dirilis Kementerian Informasi Myanmar pada 13 Desember 2017 menunjukkan Wa Lone (kiri) dan Kyaw Soe Oo diborgol dengan sejumlah barang bukti berupa dokumen terkait dengan investigasi pembantaian 10 muslim Rohingya yang diberikan oleh polisi yang tak mereka kenal. REUTERS

Foto-foto yang diabadikan Wa Lone pada 8 Desember 2017 menunjukkan tulang manusia yang diduga milik 10 Muslim Rohingya yang dibantai tentara Myanmar pada 1-2 September 2017. REUTERS

Wa Lone dan Kyaw Soe Oo saat bekerja di meja mereka di kantor Reuters di Yangon, Myanmar, sehari sebelum mereka ditangkap, 11 Desember 2017. REUTERS