Senin, 10 Desember 2018

Peserta saling serang membawa obor saat mengikuti ritual perang obor di Desa Tegalsambi, Tahunan, Jepara, Jawa Tengah, 20 Agustus 2018. Ritual perang obor merupakan upacara tradisional yang digelar sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah panen serta dijauhkannya sengkala atau penyakit yang berlangsung turun-temurun. ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO

Peserta saling serang membawa obor saat mengikuti ritual perang obor di Desa Tegalsambi, Jepara, Jawa Tengah, 20 Agustus 2018. Pelaksanaan perang obor menggunakan perhitungan kalender Jawa/Arab yaitu jatuh pada hari Senin Pahing malam Selasa Pon di bulan Dzulhijah. ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO

Peserta bersiap mengikuti ritual perang obor di Desa Tegalsambi, Tahunan, Jepara, Jawa Tengah, 20 Agustus 2018. Perang obor menggunakan bahan utama blarak (daun kelapa kering) dan klaras (daun pisang kering). Selain itu juga disiapkan sesajian untuk para leluhur kepada pendiri desa, penyebar agama dan tokoh-tokoh lain berupa kerbau jantan (disembelih dan diolah), nasi, ketupat, jajan pasar dan bubur warna-warni. ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO

Sejumlah sesepuh dan petinggi desa membawa sesaji untuk memulai ritual perang obor di Desa Tegalsambi, Tahunan, Jepara, Jawa Tengah, 20 Agustus 2018. Sebelum perang dimulai, prosesi dimulai dari ritual pelepasan dari kediaman Kepala Desa. Rombongan pasukan obor diawali oleh Petinggi Desa Tegalsambi. ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO

Peserta mengolesi kakinya yang terluka bakar dengan minyak kelapa seusai mengikuti ritual perang obor di Desa Tegalsambi, Tahunan, Jepara, Jawa Tengah, 20 Oktober 2018. Peserta yang terluka terkena percikan bunga api diobati dengan minyak khusus yang dibuat dari kelapa dicampur bunga telon. ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO

Peserta bersiap mengikuti ritual perang obor di Desa Tegalsambi, Tahunan, Jepara, Jawa Tengah, 20 Agustus 2018. Tradisi perang obor ini bertujuan untuk mempererat ikatan persaudaraan masyarakat desa. Disamping itu, perekonomian warga juga ikut terangkat karena banyaknya wisatawan dari luar kota yang hadir untuk menyaksikan ritual tersebut. ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO