Sejumlah anak terdampak bencana, bermain dan bergembira dalam kegiatan Palu Ceria Bersama Kemendikbud di Kamp Pengungsi Kelurahan Duyu, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 30 November 2018. Kegiatan Palu Ceria yang juga ditandai dengan pemberian bingkisan kepada anak-anak terdampak gempa itu untuk membangun optimisme pasca-bencana. ANTARA/Basri Marzuki

Vice President Corporate Affairs PT Samsung Electronic Indonesia KangHyun Lee (kanan) menyerahkan pakaian yang telah dicuci gratis kepada salah seorang warga terdampak bencana di Posko Peduli Samsung di Kamp Pengungsi Kelurahan Duyu, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 30 November 2018. Untuk mendukung masa pemulihan pasca-bencana, Samsung memberikan layanan cuci gratis, perbaikan alat elektronik yang rusak akibat bencana, sarana hiburan dan edukasi untuk anak-anak. ANTARA/Basri Marzuki

Warga memeriksakan kesehatan di Posko Kesehatan Kamp Pengungsi Kelurahan Duyu, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 30 November 2018. Kementerian Kesehatan mencatat, pascagempa di Palu 28 September 2018 terdapat empat penyakit tertinggi yang banyak menjangkiti pengungsi yakni Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), Diare, Hipertensi, dan Penyakit Kulit. ANTARA/Basri Marzuki

Warga menyiapkan makanan di dapur umum Kamp Pengungsi Kelurahan Duyu, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 30 November 2018. Dapur umum yang ada di kamp pengungsian tersebut hanya dibuka jika ada bantuan bahan makanan dari dermawan atau donatur. ANTARA/Basri Marzuki

Pengungsi korban gempa dan likuifaksi mengisi air ke dalam galon dan meminum air siap minum yang disediakan secara gratis di Lokasi Pengungsian di Desa Lolu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat, 30 November 2018. Layanan air siap minum bantuan Kementerian ESDM disediakan pada sejumlah lokasi pengungsian maupun hunian sementara di Kabupaten Sigi, Donggala dan Kota Palu. ANTARA/Mohamad Hamzah

Pengungsi korban gempa dan tsunami berada beraktivitas di Kamp Terpadu Desa Loli, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Kamis, 29 November 2018. Hingga kini ratusan jiwa yang terdiri dari balita, anak - anak, dewasa dan lansia masih bertahan di tempat tersebut setelah rumah mereka rusak akibat gempa dan tsunami pada 28 September 2018. ANTARA/Mohamad Hamzah