Rabu, 12 Desember 2018

Seorang petugas kesehatan membawa bayi yang dicurigai tertular virus Ebola di rumah sakit di Oicha, Provinsi Kivu Utara Republik Demokratik Kongo, 6 Desember 2018. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyatakan terdapat sekitar 200 lebih orang tewas akibat terjangkit wabah ebola. REUTERS/Goran Tomasevic

Bayi yang diduga terinfeksi virus Ebola menangis di rumah sakit Oicha, Provinsi Kivu Utara Republik Demokratik Kongo, 6 Desember 2018. Diketahui virus ebola yang melanda Kongo telah terjadi sejak Agustus 2018. REUTERS/Goran Tomasevic

Seorang wanita pingsan setelah bayinya meninggal karena dugaan virus Ebola di Oicha, Provinsi Kivu Utara Republik Demokratik Kongo, 6 Desember 2018. Terlambatnya penanganan wabah Ebola di Kongo terbentur dengan adanya konflik membuat sejumlah tim medis selalu dihadang oleh pemberontak. REUTERS/Goran Tomasevic

Seorang perawat membawa bayi yang dicurigai terinfeksi virus Ebola di rumah sakit di Oicha, Provinsi Kivu Utara Republik Demokratik Kongo, 6 Desember 2018. Virus ebola yang menyebabkan pendarahan parah, kegagalan organ, dan dapat menyebabkan kematian. REUTERS/Goran Tomasevic

Seorang bocah yang diduga terinfeksi virus Ebola duduk di kursi di pusat transit di Beni, Provinsi Kivu Utara Republik Demokratik Kongo, 6 Desember 2018. Salah satu upaya pencegahan wabah terhambat oleh krisis yang terjadi di negara itu. Tepatnya di sebelah timur kota Beni di North Kivu, wilayah yang telah rusak akibat konflik bersenjata. REUTERS/Goran Tomasevic

Seorang anak laki-laki yang diduga terinfeksi Ebola terletak di pusat transit di Beni, Provinsi Kivu Utara Republik Demokratik Kongo, 6 Desember 2018. REUTERS/Goran Tomasevic