Sukur Sultan membawa foto keluarga yang meninggal akibat gempa dan tsunami di Wani, Donggala, Sulawesi Tengah, 9 Oktober 2018. Sukur Sultan bercerita bahwa dirinya tak kuasa menyelamatkan ibu, anak, dan cucu kesayangannya saat gelombang tsunami setinggi 1,5 meter menggulung kampungnya. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Subhan Bachong berpose di depan rumahnya yang rusak akibat likuifkasi di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, 8 Oktober 2018. Subhan Bachong bercerta bahwa dirinya berhasil menyelamatkan diri bersama anak istri sembari memapah kedua orang tuanya dari gempa yang disusul likuifaksi. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Yuslifa berpose di depan rumahnya yang rusak akibat likuifkasi di Lere, Palu, Sulawesi Tengah, 8 Oktober 2018. Gempa berkekuatan 7,4 pada skala Richter (SR) yang disusul gelombang tsunami dan likuifaksi pada 28 September 2018 menghancurkan sejumlah kota di wilayah Sulawesi Tengah. Dua kota terdampak paling parah terjadi di Palu dan Donggala. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Abdullah H Terra berpose di depan rumahnya yang rusak akibat gempa dan tsunami di Wani, Donggala, Sulawesi Tengah, 8 Oktober 2018. Runtutan petaka di Sulawesi Tengah mengakibatkan lebih dari 2.000 orang tewas, dan sekitar 10.000 luka-luka. Guncangan gempa, terjangan tsunami, serta gulungan tanah likuifaksi memporak-porandakan Palu-Donggala dan turut menghancurkan pula para penyintas. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Zidan (kanan) dan Caca berpose di depan rumahnya yang rusak akibat gempa dan tsunami di Wani, Donggala, Sulawesi Tengah, 8 Oktober 2018. Tidak sedikit warga yang kehilangan tempat tinggal dan keluarganya. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Suud Arrahman berpose di depan rumahnya yang rusak akibat gempa dan tsunami di Wani, Donggala, Sulawesi Tengah, 8 Oktober 2018. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A