Unmanned aircraft system (UAS) atau pesawat tanpa awak, Chung Shyang II Taiwan yang dikembangkan di dalam negeri melakukan sesi pengujian kesiapan di Pingtung, Taiwan 24 Januari 2019. REUTERS/Tyrone Siu

Unmanned aircraft system (UAS) atau pesawat tanpa awak, Chung Shyang II Taiwan disiapkan jelang dilakukan uji coba di Pingtung, Taiwan 24 Januari 2019. UAV Chung Shyang II memiliki panjang badan pesawat di 5, 3 meter, dan panjang sayap 8, 7 meter. REUTERS/Tyrone Siu

Unmanned aircraft system (UAS) atau pesawat tanpa awak, Chung Shyang II Taiwan disiapkan jelang dilakukan uji coba di Pingtung, Taiwan 24 Januari 2019. Drone ini diketahui mampu mencapai kecepatan maksimum hingga 180 km per jam. REUTERS/Tyrone Siu

Unmanned aircraft system (UAS) atau pesawat tanpa awak, Chung Shyang II Taiwan disiapkan jelang dilakukan uji coba di Pingtung, Taiwan 24 Januari 2019. Drone ini juga mampu terbang sejauh 120 Km dengan waktu tempuh selama 10 jam. REUTERS/Tyrone Siu

Seorang tentara Taiwan mengoperasikan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau pesawat tak berawak menggunakan sebuah konsol saat melakukan uji coba di Pingtung, Taiwan, 24 Januari 2019. Chung Shyang II merupakan hasil pengembangan dari Chung Shyang I yang dikembangkan oleh Chungshan Institute of Science and Technology (CSIST). REUTERS/Tyrone Siu

Seorang tentara Taiwan mengoperasikan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau pesawat tak berawak menggunakan sebuah konsol saat melakukan uji coba di Pingtung, Taiwan, 24 Januari 2019. Chung Shyang II dapat melakukan pengintaian, akuisisi target, pengintai artileri, dan melakukan tugas-tugas lain seperti patroli perbatasan, dan pengintaian udara untuk berbagai lembaga pemerintah. REUTERS/Tyrone Siu