Pekerja menyelesaikan kain Tenun Ikat khas Kediri menggunakan alat tenun di Kelurahan Bandar Kidul, Kediri, Jawa Timur, 13 Desember 2018. Tenun ikat merupakan kain khas Kota Kediri. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Pekerja mewarnai benang sebelum diolah menjadi kain Tenun Ikat khas Kediri di Kelurahan Bandar Kidul, Kediri, Jawa Timur, 13 Desember 2018. Kain traditional itu punya sejarah yang cukup panjang, seperti asal usul Kota Kediri yang merupakan kerajaan tua dengan beragam kekayaan budayanya. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Pekerja mewarnai benang sebelum diolah menjadi kain Tenun Ikat khas Kediri di Kelurahan Bandar Kidul, Kediri, Jawa Timur, 13 Desember 2018. Dalam sejarahnya, tenun ikat sudah ada sebelum Indonesia merdeka atau pada masa pemerintahan Kerajaan Kediri sekitar abad 11-13. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Pekerja merapikan benang yang kusut saat di Kelurahan Bandar Kidul, Kediri, Jawa Timur, 13 Desember 2018. Seorang sejarawan asal Belanda, Gerrit Pieter Rouffaer yang melakukan penelitian kain di Indonesia mengatakan, bahwa pola gringsing atau teknik dobel ikat dimana pola tersebut hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sudah dikenal dan digunakan sejak abad ke-12. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Pekerja menyelesaikan kain Tenun Ikat khas Kediri menggunakan alat tenun di Kelurahan Bandar Kidul, Kediri, Jawa Timur, 14 Desember 2018. Proses pengerjaan tenun menggunakan benang halus ini melewati dua proses pengerjaan dengan 14 tahapan. Proses pembuatan lungsi atau keteng yang melalui empat tahapan yaitu, pencelupan, pemintalan, skeer atau menggulung benang di boom dan proses grayen atau menyambung benang. Proses kedua adalah pemintalan benang putih, reek atau menata benang di bidangan, desain, pengikatan, pencelupan, colet, pelepasan tali, mengurai benang, pemintalan di palet dan yang terakhir adalah proses tenun. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Model mengenakan pakaian rancangan desainer Didit Maulana pada Dhoho Street Fashion 2018 di Taman Sekartaji, Kediri, 13 Desember 2018. Kain tenun yang dihasilkan mulai dari kain sarung gombyor, kain misris (biasa), semi sutra, hingga sutra. Kain tersebut dibuat berwarna-warni dengan motif Kediren seperti ceplok hingga lung. ANTARA FOTO/Galih Pradipta