Jatuhnya pesawat Boeing 737 Max 8 yang dioperasikan maskapai Ethiopian Airlines ketika bertolak menuju Nairobi, Kenya, pada 10 Maret 2019 membuat sejumlah negara memutuskan untuk melarang Boeing 737 Max 8 beroperasi kembali, salah satunya yakni pada Maskapai Garuda Indonesia. TEMPO/Rully Kesuma

Kecelakaan maskapai Lion Air dari Bandara Soekarno-Hatta yang jatuh di Laut Jawa dan menewaskan 189 orang tersebut juga menggunakan pesawat Boeing 737 Max 8. TEMPO/Abdi Purmono

Maskapai di Indonesia yang juga menggunakan pesawat Boeing 737 Max 8 yakni Sriwijaya Air. Di seluruh dunia dilaporkan terdapat 350 unit Boeing 737 MAX 8. Saat ini, selain negara juga ada maskapai yang memutuskan untuk melarang pesawat tersebut terbang. Dok.TEMPO/Fahmi Ali

Pesawat Boeing 737 Max 8 yang digunakan oleh Maskapai American Airlines dalam penerbangan dari Miami ke New York City di Bandar Udara LaGuardia di New York, Amerika Serikat, 12 Maret 2019. Boeing 737 MAX 8 merupakan pesawat penumpang sipil penerus Boeing 737 Next Generation yang diproduksi di Amerika Serikat. REUTERS/Shannon Stapleton

Pesawat Boeing 737 MAX 8 yang digunakan Aerolineas Argentinas di Bandara Ezeiza di Buenos Aires, Argentina, 4 Desember 2017. Jatuhnya Ethiopian Airlines yang menggunakan pesawat Boeing 737 Max 8 membuat 11 negara menghentikan penerbangan Boeing 737 Max 8, yakni Singapura, China, Indonesia, Korea Selatan, Mongolia, Australia, Malaysia, Oman, Meksiko, Ethiopia, dan Argentina. REUTERS/Stringer

Pesawat Boeing 737 Max 8 yang digunakan maskapai SilkAir saat mendarat di Changi Airport di Singapura, 12 Maret 2018. Saat ini baru dua maskapai yang menghentikan operasional Boeing 737 Max 8 yakni Ethiopian Airlines dan Cayman Airlines, dan Amerika sebagai negara yang memproduksi 737 Max 8 masih menunggu hasil penelitian lebih lanjut. REUTERS/Edgar Su