Huang Wensi bertarung melawan Jarusiri Rongmuang dari Thailand saat memperebutkan sabuk emas dalam kejuaraan tinju wanita kelas Terbang Super Asia di Taipei, Taiwan, 26 September 2018. Huang adalah salah satu dari kelompok kecil perempuan di Cina yang mengejar karir sebagai tinju profesional. REUTERS/Yue Wu

Huang Wensi berlatih di sebuah taman, ditemani oleh suami dan saudara perempuannya, di Lianjiang, provinsi Guangdong, Cina, 30 Juni 2018. Sebagai perempuan dan seorang ibu, ia menikmati tinju meskipun stereotip tradisional di negara itu menganggap wanita tidak akan mampu melakukannya. REUTERS/Yue Wu

Huang Wensi saat latihan terakhir di Ningbo, Provinsi Zhejiang, China, pada 23 September 2018 sebelum bertolak ke Taiwan mengikuti kejuaraan tinju wanita kelas Terbang Super Asia. Huang mulai belajar tinju pada 2002 setelah seorang pelatih melihat potensinya di sekolah. Dia bergabung dengan tim provinsi tiga tahun kemudian, tetapi pensiun pada 2011 karena cedera. REUTERS/Yue Wu

Huang Wensi memulas make up pada wajahnya sebelum bertanding dalam kejuaraan tinju wanita kelas Terbang Super Asia di Taipei, Taiwan, 26 September 2018. Setelah melahirkan pada 2016, Huang sempat menderita depresi berat, bahkan hingga ada dorongan untuk bunuh diri. Depresi itu justru memacunya untuk kembali sebagai petinju profesional setelah beristirahat beberapa tahun. REUTERS/Yue Wu

Huang Wensi merayakan kemenangannya setelah berhasil meraih sabuk emas dalam kejuaraan tinju wanita kelas Terbang Super Asia di Taipei, Taiwan, 26 September 2018. Setelah kemenangan itu, Huang pun berkata "Jangan panggil aku raja," katanya. "Tolong panggil queen of the ring" karena keberhasilannya mendobrak stereotip tentang perempuan Cina dalam dunia tinju. REUTERS/Yue Wu

Huang Wensi berinteraksi dengan putranya di tempat dia bekerja, sebelum mengirim putranya kembali ke kampung halamannya di Lianjiang, provinsi Guangdong, Cina, 28 Juni 2018. Selain menjadi petinju profesional, Huang juga bekerja sebagai guru di Zhejiang. REUTERS/Yue Wu