Anak punk mengikuti pengajian di Kolong jembatan layang Tebet, Jakarta, 17 Mei 2019. Sejumlah anak Punk mulai belajar Islam dan belajar membaca Al Quran setelah bertemu dan ngopi bareng dengan Halim Ambiya, pendiri komunitas Tasawuf Underground. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Anak punk mengikuti pengajian di Kolong jembatan layang Tebet, Jakarta, 17 Mei 2019. Tasawuf Underground merupakan sebuah komunitas yang awalnya hanya bergerak di media sosial dengan tujuan untuk mengamalkan ilmu Islam yang lahir dari minimnya akses anak punk terhadap pendidikan agama. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Anak punk mengikuti salat jamaah di Kolong jembatan layang Tebet, Jakarta, 17 Mei 2019. Halim Ambiya yang merupakan lulusan program pascasarjana di Institut Pemikiran dan Peradaban Islam Internasional Kuala Lumpur, Malaysia. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Anak punk bersiap mengikuti salat jamaah di Kolong jembatan layang Tebet, Jakarta, 17 Mei 2019. Halim yang juga Dosen di Universitas Islam Negeri Jakarta itu menyusuri lorong-lorong Ibu Kota untuk mencari titik kumpul anak jalanan dan anak punk, lalu berusaha mengajak mereka belajar tentang Islam bersama-sama. Halim memulainya dengan mendekati mereka, mengajak mereka berbincang sambil ngopi bareng. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Anak punk menghapus tatonya di Kolong jembatan layang Tebet, Jakarta, 17 Mei 2019. Setelah beberapa kali pertemuan, Halim Ambiya menawarkan "peta jalan pulang", metode pengajaran komunitas untuk mengenalkan kembali agama kepada anak jalanan dan anak punk serta mengubah stigma masyarakat terhadap mereka. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Seorang anak punk membuat kopi di Kedai "Kopi Shalawat" Ciputat, Tangerang Selatan, 24 April 2019. Seorang anak Punk, Bima Abdul Saleh (26) merasakan kehidupan yang jauh lebih baik setelah empat bulan bergabung dan menemukan peta untuk jalan pulang di Komunitas Tasawuf Underground. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga