Seorang peserta mengayunkan lidi kelawannya saat atraksi Pukul Sapu di Malama, Maluku Tengah, Rabu 12 Juni 2019. Upacara ritual `Ukuwala Mahiate` atau pukul sapu merupakan upacara adat negeri Mamala yang dilaksanakan setiap tahun dilatarbelakangi pembanguan Masjid Mamala. ANTARA Foto/Atika Fauziyyah

Sejumlah peserta mempersiapkan lidi / tulang daun dari pelepah pohon Aren untuk atraksi Pukul Sapu di Malama, Maluku Tengah, Rabu 12 Juni 2019. Kata ukuwala diambil dari bahasa negeri Mamala yang artinya sapu lidi sedangkan Mahiate artinya baku pukul. Jadi arti dari ukuwala mahiate adalah baku pukul sapu lidi disebut juga pukul menyapu. ANTARA Atika Fauziyyah

Sejumlah peserta bersiap mengikuti atraksi Pukul Sapu di Malama, Maluku Tengah, Rabu 12 Juni 2019. Ukuwala Mahiate diikuti 20 peserta dari kedua desa yang saling berhadapan dengan memegang sapu lidi di kedua tangan. Kedua kelompok mulai saling mengayunkan lidi saat suling mulai ditiup. Hingga akhir pertandingan tidak nampak rasa sakit yang dirasakan. ANTARA FOTO/Atika Fauziyyah

Seorang pemuka adat mengambil minyak Mamala atau Tasala untuk dibawa ke rumah raja dan dibacakan doa di Malama, Maluku Tengah, Selasa 11 Juni 2019. Ketika pertempuran selesai, pemuda kedua desa tersebut menggobati lukanya dengan menggunakan getah pohon jarak. Ada juga yang mengoleskan minyak 'nyualaing matetu' (minyak tasala) dimana mujarab untuk mengobati patah tulang dan luka memar. ANTARA FOTO/Atika Fauziyyah

Seorang tokoh agama di Negeri Mamala memoleskan minyak Mamala yang dipercaya dapat menyembuhkan bekas luka sabetan lidi dari Atraksi Pukul Sapu di Malama, Maluku Tengah, Selasa 11 Juni 2019. Nilai filosofis dari upacara tersebut yaitu persaudaraan tidak memandang Suku, Agama dan Ras. Sakit di kuku, rasa di daging yang artinya rasa senang maupun rasa sakit dapat dirasakan bersama demi terwujudnya kehidupan yang harmonis antar sesama. ANTARA FOTO/Atika Fauziyyah

Seorang peserta menahan pukulan lidi daripeserta lain saat atraksi Pukul Sapu di Malama, Maluku Tengah, Rabu 12 Juni 2019. Namun, ada cerita yang juga berkembang bahwa asal tradisi itu berawal dari sejarah masyarakat di Maluku Tengah saat bertempur mempertahankan Benteng Kapapaha dari serbuan Penjajah meskipun perjuangan mereka gagal dan Benteng Kapapaha tetap jatuh ke tangan penjajah yang dipimpin oleh Kapiten Telukabessy. ANTARA FOTO/Atika Fauziyyah