Ekspresi dokter gigi (drg) Romi Syofpa Ismael menahan tangis ketika menjawab pertanyaan wartawan sebelum menemui Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo di kantor Kemendagri, Jakarta, Rabu, 31 Juli 2019. Kedatangan Romi tersebut untuk mencari keadilan dan berkonsultasi kepada Mendagri Tjahjo Kumolo terkait pembatalan kelulusan CPNS meski dirinya menduduki peringkat pertama saat tes. TEMPO/M Taufan Rengganis

Drg Romi Syofpa Ismael didampingi anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka tiba di kantor Kemendagri, Jakarta, Rabu, 31 Juli 2019. Kelulusannya sebagai PNS dianulir Bupati Solok Selatan. Ia mengikuti seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2018 dan dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan dan menempati ranking satu dari seluruh peserta. TEMPO/M Taufan Rengganis

Drg Romi Syofpa Ismael tampak menahan tangis saat berbincang dengan anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka sebelum bertemu Mendagri di kantor Kemendagri, Jakarta, Rabu, 31 Juli 2019. Kelulusannya dibatalkan oleh Pemkab Solok Selatan sebab ada peserta yang melaporkan bahwa Romi penyandang disabilitas. TEMPO/M Taufan Rengganis

Drg Romi Syofpa Ismael menyeka air matanya saat menyampaikan kisahnya sebelum bertemu Mendagri di kantor Kemendagri, Jakarta, Rabu, 31 Juli 2019. Diketahui, Romi telah mengabdi di Solok Selatan, salah satu daerah tertinggal di Sumatera Barat, sejak 2015. Ia bekerja di Puskesmas Talunan, sebagai pegawai tidak tetap (PTT). TEMPO/M Taufan Rengganis

Drg Romi Syofpa Ismael berbincang dengan Mendagri Tjahjo Kumolo di kantor Kemendagri, Jakarta, Rabu, 31 Juli 2019. Pada 2016, seusai melahirkan, Romi mengalami lemah tungkai kaki yang menyebabkannya harus duduk di kursi roda hingga saat ini. Namun keadaan itu tidak menghalangi dirinya untuk tetap bekerja memberikan pelayanan kepada masyarakat di puskesmas. TEMPO/M Taufan Rengganis

Drg Romi Syofpa Ismael berjabat tangan dengan Mendagri Tjahjo Kumolo usai berbincang di kantor Kemendagri, Jakarta, Rabu, 31 Juli 2019. Pada 2017, karena dedikasinya, Romi mendapat perpanjangan kontrak sekaligus diangkat sebagai tenaga honorer harian lepas. Ia mengikuti seleksi CPNS untuk mengubah nasibnya lebih baik dari sekadar pegawai honorer. TEMPO/M Taufan Rengganis