Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (kiri) dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati saat jumpa pers mengenai tumpahan minyak Pertamina di Karawang, di Gedung Mina Bahari IV, Kantor KKP, Jakarta, Kamis, 1 Agustus 2019. Susi meminta Pertamina terus memaksimalkan penanganan, termasuk mengantisipasi dampak kerusakan lingkungan laut atas tumpahan minyak. TEMPO/Tony Hartawan

Menteri KKP Susi Pudjiastuti (kiri) dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati berbincang dengan wartawan saat jumpa pers di Gedung Mina Bahari IV, Kantor KKP, Jakarta, Kamis, 1 Agustus 2019. Nicke menyatakan dari sebanyak 3000 barel minyak yang tumpah setiap setiap harinya, kini tinggal tersisa 10 persen saja yang masih mengapung di lautan, atau sekitar 300 barel minyak. TEMPO/Tony Hartawan

Menteri KKP Susi Pudjiastuti (kiri) dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati saat jumpa pers di Ruang Rapat Menteri KKP, Gedung Mina Bahari IV, Kantor KKP, Jakarta, Kamis, 1 Agustus 2019. Insiden gelembung gas dan tumpahan minyak ini awal mulanya terjadi pada 12 Juli 2019, ketika Pertamina melakukan kegiatan korporasi. TEMPO/Tony Hartawan

Menteri KKP Susi Pudjiastuti dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menghadiri jumpa pers mengenai tumpahan minyak Pertamina di Kantor KKP, Jakarta, Kamis, 1 Agustus 2019. Kejadian ini terjadi di pada sumur YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di lepas pantai utara Karawang, Jawa Barat. TEMPO/Tony Hartawan