Liu Xiaojin, mengatur telepon saat dia bersiap-siap untuk mengikuti kelas olahraga, ketika negara tersebut dilanda wabah virus corona baru, di Beijing, Cina, 14 Februari 2020. Salah satu tempat olahraga Pilates Pro Works di Shanghai, Cina, memanfaatkan live streaming untuk memberikan kelas olahraga online kepada para pelanggannya. REUTERS/Carlos Garcia Rawlins

Liu Xiaojin, menyesuaikan telepon untuk live streaming selama pelatihan Pilates di kelas olahraga Pro Works, saat negara tersebut dilanda wabah virus corona baru, di Beijing, Cina, 14 Februari 2020. Live Streaming ini sudah dilakukan selama beberapa minggu terakhir menyusul merebaknya penyebaran virus corona (COVID-19) yang dialami Cina hingga membuat sebagian besar masyarakat di sana menghindari tempat-tempat umum, termasuk restoran dan tempat olahraga. REUTERS/Carlos Garcia Rawlins

Zhang Weiya, seorang pelatih kebugaran, menggunakan botol-botol deterjen pencuci piring ketika dia melakukan live streaming di rumahnya, saat negara itu dilanda wabah virus corona baru, di Beijing, Cina 15 Februari 2020. Kondisi ini telah mendorong Chris Li, pemilik tempat olahraga Pilates Pro Works berinisiatif untuk tetap mengajak pelanggan setianya berolah raga di rumah mereka masing-masing melalui live streaming. REUTERS/Carlos Garcia Rawlins

Pelatih Wang Kai mengajar kelas yang disiarkan langsung di gym, saat negara tersebut terkena wabah virus corona baru, di Beijing, Cina, 14 Februari 2020. Kelas olahraga secara live streaming ini ditawarkan secara gratis dan mendapat banyak perhatian dari netizen yang menyaksikannya. REUTERS/Carlos Garcia Rawlins

Zhang Weiya, seorang pelatih kebugaran, menggunakan botol-botol deterjen pencuci piring ketika dia menyiarkan live streaming di rumahnya, saat negara itu dilanda wabah virus corona baru, di Beijing, Cina 15 Februari 2020. REUTERS/Carlos Garcia Rawlins

Pelatih kebugaran Katie Xu (kiri) dan Heidi Liu memimpin kelas latihan dan menyiarkannya langsung di studio Pilates ProWorks di Shanghai, Cina, saat negara tersebut dilanda wabah virus coronavirus baru, 16 Februari 2020. REUTERS/Aly Song