Enggang Batu-Ayau (dua kanan) bersama Paulus Pangkah, Senior Manager MURI saat menerima piagam Museum Rekor Indonesia (MURI) di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya (06/7). Bocah berusia 5 tahun ini, menerima penghargaan MURI sebagai pelukis termuda yang berpameran tunggal. TEMPO/Fully Syafi

Enggang Batu-Ayau berpose seusai menerima piagam MURI di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya (06/7). TEMPO/Fully Syafi

Sejumlah pengunjung melihat karya lukis dari pelukis muda berusia 5 tahuan , Enggang Batu-Ayau yang berpameran tunggal di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya (06/7). TEMPO/Fully Syafi

Enggang Batu-Ayau duduk diatas mobil mainan di sisi karya lukisnya yang di pamerkan di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya (06/7). TEMPO/Fully Syafi

Pelukis Enggang Batu-Ayau saat sedang menggambar di tengah pameran lukisannya di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya (06/7). Ia pernah juara dua kompetisi lukis anak internasional di Hunggaria pada 2012 . TEMPO/Fully Syafi

Piagam Museum Rekor Indonesia (MURI) beserta karya Lukis Enggang Batu-Ayau di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya (06/7). Enggang Batu-Ayau yang baru berusia 5 tahun, menerima penghargaan dari MURI pada pameran tunggal yang memamerkan 60 karya lukisnya. TEMPO/Fully Syafi