Minggu, 20 September 2020

Seorang pria Lebanon berteriak minta tolong untuk seorang pria yang terluka di dekat lokasi ledakan bom mobil di Beirut, 14 Februari 2005. Lebih dari 15 tahun yang lalu, Beirut diguncang ledakan bom mobil yang menewaskan Perdana Menteri Rafiq Hariri bersama sekitar 21 lainnya dan melukai 220 orang. REUTERS/Mohamed Azakir

Deretan puing kendaraan di lokasi ledakan bom mobil di Beirut, Lebanon, 14 Februari 2005. Serangkaian pemboman dan pembunuhan tokoh melanda Lebanon, kebanyakan terjadi di dalam dan sekitar ibu kota, Beirut sejak 2004 hingga 2018. REUTERS/Mohamed Azakir

Asap mengepul ke langit di atas kota setelah ledakan bom mobil di dekat hotel St George, Beirut, Lebanon, 14 Februari 2005. Meski ledakan maut yang terjadi pada 4 Agustus 2020 bukan diakibatkan oleh bom, namun peristiwa tersebut mengingatkan dunia dan masyarakat akan rangkaian teror yang pernah terjdi di masa lalu. REUTERS/Alexander Jenniches

Seorang wanita Lebanon berduka setelah pembunuhan mantan perdana menteri Rafik al-Hariri selama protes di Beirut, Lebanon, 15 Februari 2005. Karena sejarah panjang terorisme di Lebanon, sempat beredar kabar jika ledakan Selasa lalu didalangi oleh serangan Israel maupun organisasi Hizbullah. REUTERS/Sharif Karim

Sebuah pemandangan menunjukkan kuburan korban tewas dalam pemboman tahun 2005, yang menewaskan mantan Perdana Menteri Lebanon Rafik al-Hariri, di Beirut, Lebanon 3 Agustus 2020. REUTERS/Mohamed Azakir

Foto empat orang yang dicari untuk pembunuhan Rafik al-Hariri, ditampilkan dalam Pengadilan Khusus untuk Lebanon di Singapura, 29 Juli 2011. Anggota kelompok fundamentalis Muslim Syiah Hizbullah diadili secara in absentia di pengadilan di Belanda atas pemboman bunuh diri tersebut. Pengadilan Khusus untuk Lebanon via REUTERS