Minggu, 20 September 2020

Aksesoris buff yang sering dikenakan untuk menutupi wajah sebagai pengganti masker disebut tidak efektif dalam mencegah penularan virus corona. Hal ini diungkapkan oleh peneliti dari Duke University, Dr. Martin Fischer setelah menguji coba 14 tipe masker. NYpost.com/Emma Fischer, Duke University

Seorang aktivis terlihat mengenakan masker kain dari buff saat bersepeda dari Bundaran HI menuju Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jakarta, Senin, 6 Juli 2020. Meski cukup nyaman dan praktis dikenakan saat berolahraga, namun material buff membuat droplet yang terpercik keluar dari pemakainya semakin terpecah dalam ukuran kecil. TEMPO/Subekti.

Bandana yang dilipat sering menjadi pilihan pengganti masker, namun menurut hasil penelitian tidak berfungsi sebaik masker kain lainnya. Untuk menguji, para ilmuwan menggunakan kotak hitam yang dilengkapi dengan laser dan kamera ponsel. NYpost.com/Emma Fischer Duke University

Aktor Johnny Depp mengenakan bandana hitam sebagai masker saat hadiri sidang di London, Imggris, 28 Juli 2020. Meski terlihat fashionable, ilmuwan menyebut bandana sebagai alternatif masker yang buruk. REUTERS/Toby Melville

Masker kain berbahan rajutan T-shirt juga disebut kurang efektif. Tujuan penelitian ini adalah mendorong masyarakat mengenakan masker yang berfungsi efektif dalam mencegah percikan droplet terbawa ke udara. NYpost.com/Duke University

Masker katun dua lapis dengan aksen lipatan ini disebut lebih buruk dari masker tiga lapis bahkan satu lapis lainnya karena memiliki kain yang renggang. Para Ilmuwan menyarankan para produsen mengetes dahulu kemampuan desain dan material masker dalam menahan droplet sebelum memasarkannnya. NYpost.com/Duke University