Siswa kelas 5, Lovely Joy De Castro, (11 tahun), membuat catatan saat menghadiri kelas online menggunakan smartphone, di Pemakaman Selatan Manila tempat dia tinggal bersama keluarganya di Makati City, Filipina, 6 November 2020. Sekolah secara daring semakin menambah beban pengeluaran bagi keluarga menengah ke bawah. REUTERS/Eloisa Lopez

Jhay Ar Calma (10 tahun), siswa kelas 5, duduk di atap rumahnya saat dia mengikuti kelas online menggunakan tablet, karena koneksi internet yang lemah di wilayahnya, di Sta. Mesa, Manila, Filipina, 30 Oktober 2020. Di Filipinan, sekolah tetap tutup selama pandemi Covid-19, yang membuat masyarakat menengah ke bawah semakin terbebani dengan biaya koneksi internet. REUTERS/Eloisa Lopez

Mark Joseph Andal (18 tahun) seorang mahasiswa, mengikuti kelas online melalui ponsel di sebuah pondok hutan yang memiliki koneksi internet, di Mabalanoy, San Juan, Batangas, Filipina 15 Oktober 2020. Andal telah mengambil pekerjaan paruh waktu di bidang konstruksi untuk membeli ponsel untuk kelas virtual dan juga membangun gubuk di hutan untuk menangkap sinyal internet. REUTERS/Eloisa Lopez

Jhay Ar Calma, dibantu oleh ibunya Jonalyn Parulan saat dia bersiap untuk mengikuti kelas online dengan tablet, yang disediakan oleh pemerintah setempat, di rumah mereka di Sta. Mesa, Manila, Filipina, 30 Oktober 2020. "Terkadang kami mengganti kartu SIM ke provider lain sehingga dia tidak harus belajar di atap, tapi jarang ada cukup uang untuk itu," kata Parulan kepada Reuters. REUTERS/Eloisa Lopez

Mary Joyce Florendo (8 tahun), siswa kelas 3, dibantu oleh ibunya saat mengerjakan modul pembelajarannya, di rumah mereka di Manila, Filipina, 10 November 2020 . REUTERS/Eloisa Lopez

Mahasiswa bernama Jester Rafon,(20 tahun) Rosemine Gonzaga (19 tahun), Jenebyl Cipres, (19 tahun), dan Almer Acuno, (21 tahun), mendaki gunung untuk mencari tempat di mana ada koneksi internet untuk mengikuti kelas online, di Sitio Papatahan, Paete, Laguna, Filipina, 22 Oktober 2020. REUTERS/Eloisa Lopez