Perajin menenun kain songket Silungkang di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, 11 Agustus 2020. Silungkang, sebuah nagari atau desa di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, berlokasi sekitar 79 kilometer dari Kota Padang. Mayoritas penduduk di desa ini adalah petani padi dan palawija. Dahulu hasil pertanian di desa itu dipasarkan hingga ke provinsi lain bahkan sampai ke Malaysia. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Seorang perajin memintal benang sebelum ditenun mnejadi kain Songket Silungkang di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, 11 Agustus 2020. Tenun songket awalnya merupakan seni budaya dari daratan negeri China sejak 1000 tahun yang lalu. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Perajin melakukan proses menghani yakni pembuatan benang lungsi untuk kebutuhan tenun kain Songket Silungkang di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, 11 Agustus 2020. Lalu tenun Songket singgah ke Negeri Siam (Thailand), menyebar ke Semenanjung Negeri Jiran Malaysia dan Brunei Darussalam kemudian menyeberang ke Pulau Sumatera yakni ke Silungkang, Siak dan Palembang. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Pekerja mewarnai benang yang akan ditenun menjadi songket Silungkang di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, 11 Agustus 2020. Tenun Songket Silungkang mengandung nilai-nilai kehidupan di masyarakat. Nilai-nilai itu adalah kesakralan, keindahan (seni), ketekunan, ketelitian dan kesabaran. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Perajin menenun kain songket Silungkang di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, 11 Agustus 2020. Ciri khas Songket Silungkang terletak pada corak dan motifnya. Motif Kaluak Paku, Pucuak Rabuang, Itiak Pulang Patang, Bintang, Buruang Merak, Rangkiang dan Buruang Dalam Rimbo menjadi motif yang banyak dibuat oleh perajin. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Seorang pengusaha menunjukan kain songket Silungkang yang biasa dibeli oleh pelanggannya di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, 11 Agustus 2020. Meski dibuat dengan peralatan sederhana, keindahan songket Silungkang bernilai jual sangat tinggi. Pedagang menjualnya mulai harga Rp350 ribu hingga Rp10 jutaan per helai, tergantung motif dan bahannya. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra