Petani membersihkan biji kopi arabika Gayo yang baru dipanen sebelum proses penjemuran di Takengon, Aceh Tengah, Aceh, 12 Desember 2020. Pandemi COVID-19 yang juga telah merambah dataran tinggi Gayo di Aceh tidak menyurutkan semangat para petani kopi arabika di daerah itu untuk terus meningkatkan produksi yang permintaannya kembali meningkat di pasar Internasional. ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA

Petani menjemur biji kopi arabika Gayo di Takengon, Aceh Tengah, Aceh, 24 Desember 2020. Tak dapat dipungkiri, sejak awal pandemi COVID-19 merebak jumlah ekspor kopi mengalami penurunan. Namun demikian, permintaan konsumen di Singapura, Malaysia, Amerika Serikat dan beberapa negara Uni Eropa tetap ada meski jumlah permintaannya menurun. ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA

Petani menjemur biji kopi arabika Gayo di pinggiran Danau Laut Tawar, Takengon, Aceh Tengah, Aceh, 12 Desember 2020. Penurunan permintaan di pasar nasional dan internasional itu tidak menyurutkan asa para petani di dataran tinggi Gayo Kabupaten Aceh Tengah untuk memanen, menjemur dan memilah biji kopi berkualitas ekspor meski harga jual yang terus turun dari Rp110 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram. ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA

Petani memanen kopi arabika Gayo di Takengon, Aceh Tengah, Aceh, 24 Desember 2020. Pemerintah daerah pun tidak berpangku tangan. Berbagai upaya terus dilakukan untuk memberikan semangat dan dukungan terhadap para petani di dataran tinggi Gayo. Salah satunya dengan meningkatkan promosi. ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA

Pekerja memilih dan memilah biji kopi arabika Gayo kualitas ekspor di Takengon, Aceh Tengah, Aceh, 27 Agustus 2020. Gubernur Aceh Nova Iriansyah pada saat masih menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) dalam rapat virtual dengan para Wali Kota dan Bupati pada 20 Juli 2020 lalu mengatakan Pemerintah Pusat tidak tinggal diam melihat kondisi petani dan hasil produksi kopi Gayo yang terpuruk akibat pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA

Pekerja mengecek biji kopi Gayo saat proses penggorengan di Banda Aceh, Aceh, 9 Februari 2021. Kini harapan tersebut masih tertanam di hati para petani, sambil menunggu pihak perbankan dapat memberikan keringanan kredit modal usaha kepada pihak koperasi dan petani kopi. ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA