Nelayan berada di atas kapalnya dengan latar belakang Gunung Api Banda, Maluku, 15 November 2020. Kepulauan Banda Naira, merupakan sebuah kepulauan yang menjadi salah satu sejarah penting dari berdirinya Republik Indonesia. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Kepulan asap dari aktivitas rumah tangga di Kepulauan Banda Naira, Maluku, 12 November 2020. Kepulauan Banda Naira menyimpan kisah tentang rempah yaitu pala yang sempat diperebutkan oleh bangsa Eropa pada abad 16 dan 17. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Pongky Van de Broeke menunjukkan foto dari Pieter Van de Broeke di Kepulauan Banda Naira, Maluku, 15 November 2020. Kepulauan Banda Naira kini meninggalkan sepenggal cerita tentang sosok Parkenier atau pemilik kebun keturunan Belanda yang merupakan generasi terakhir, yaitu bernama Pongky van den Broeke. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Pongky Van de Broeke mengolah pala menjadi minyak pala (atsiri) di Kepulauan Banda Naira, Maluku, 15 November 2020. Pongky merupakan sosok yang menjadi sejarah hidup dalam kisah pergolakan lahan pala di kawasan Banda Naira. Sosok kurus berkacamata itu mengatakan bahwa dirinya merupakan keturunan ke-13 dari pemilik kebun asal negeri kincir angin yaitu Paulus van den Broeke, adik dari Pieter Jan van den Broeke yang merupakan admiral Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang melakukan pendaratan ke Pulau Banda pada tahun 1621. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Detail biji pala usai dipetik di Kepulauan Banda Naira, Maluku, 12 November 2020. Paulus yang merupakan parkenier pertama dari klan Van den Broeke di Kepulauan Banda memulai mengembangkan kebun pertamanya di Pulau Ay hingga Pulau Rhun. Dalam sebuah catatan jurnal Belanda `Trouw`, kebun pala milik keluarga Van de Broeke bisa menghasilkan 24 ribu pon atau 20 ton pala dan 6.000 pon atau 2,9 ton fuli (bunga pala) dengan 160 pekerja dan 55 budak. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Suasana permukiman di Kepulauan Banda Naira, Maluku, 12 November 2020. Dari dulu nenek moyang kita hidup dari pala. Perkebunan ini dibangun dengan penuh pengorbanan. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja