Asap mengepul dari api di atas kapal MV X-Press Pearl saat ditenggelamkan ke laut dalam di Pelabuhan Kolombo, di Sri Lanka 2 Juni 2021. Insiden kebakaran kapal kargo yang membawa berton-ton bahan kimia di lepas pantai barat Sri Lanka pada 20 Mei lalu itu merupakan bencana laut terburuk yang pernah terjadi di Sri Lanka. Sri Lanka Airforce Media/Handout via REUTERS

Asap mengepul dari api di atas kapal MV X-Press Pearl saat ditenggelamkan ke laut dalam di Pelabuhan Kolombo, di Sri Lanka 2 Juni 2021. Saat terbakar, Kapal MV X-Press tersebut membawa 1.486 kontainer, termasuk 25 ton asam nitrat, bersama dengan bahan kimia dan kosmetik lainnya. Sri Lanka Airforce Media/Handout via REUTERS

Asap mengepul dari api di atas kapal MV X-Press Pearl saat ditenggelamkan ke laut dalam di Pelabuhan Kolombo, di Sri Lanka 2 Juni 2021. Terbakarnya Kapal MV X-Press telah membuat sebuah krisis lingkungan terbesar dalam beberapa dekade di Sri Lanka. Sri Lanka Airforce Media/Handout via REUTERS

Asap mengepul dari api di atas kapal MV X-Press Pearl saat ditenggelamkan ke laut dalam di Pelabuhan Kolombo, di Sri Lanka 2 Juni 2021. Dampak dari terbakarnya Kapal MV X-Press membuat pemerintah telah melarang penangkapan ikan di sepanjang garis pantai sepanjang 80 kilometer, berdampak pada 5.600 kapal penangkap ikan, sementara ratusan tentara telah dikerahkan untuk membersihkan pantai. Sri Lanka Airforce Media/Handout via REUTERS

Asap mengepul dari api di atas kapal MV X-Press Pearl saat ditenggelamkan ke laut dalam di Pelabuhan Kolombo, di Sri Lanka 2 Juni 2021. Sri Lanka Airforce Media/Handout via REUTERS

Asap mengepul dari api di atas kapal MV X-Press Pearl saat ditenggelamkan ke laut dalam di Pelabuhan Kolombo, di Sri Lanka 2 Juni 2021. Sri Lanka Airforce Media/Handout via REUTERS