Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian berkunjung ke Indonesia untuk bertemu sejumlah menteri dan Presiden Jokowi. Selain untuk mempererat hubungan di kawasan Indo-Pasifik, kedatangan Le Drian diprediksi bertujuan untuk membicarakan pembelian senjata militer, termasuk jet tempur Rafale. Sgt Taylor Harrison/USAF

Prancis telah melakukan negosiasi dengan Jakarta selama beberapa bulan untuk penjualan 36 jet tempur Rafale. Dan negosiasi ini kembali dilakukan pasca pembentukan poros AUKUS (Australia-Inggris-Amerika Serikat) yang menyebabkan batalnya pembelian kapal selam Prancis. USAF/Sgt. Taylor Harrison

Jet tempur Rafale yang dikembangkan untuk Angkatan Laut Prancis dan Angkatan Udara Prancis dapat digunakan untuk melakukan serangan darat dan laut, pengintaian, serangan akurasi tinggi dan pencegahan serangan nuklir. Foto : Dassault Aviation

Jet tempur Rafale memiliki pod meriam kembar dan meriam Nexter 30mm DEFA 791B, yang dapat menembakkan 2.500 peluru per menit. Rafale juga dilengkapi dengan pod penunjuk laser untuk panduan laser rudal udara-ke-darat. USAF/ Sgt. Alexander Cook

Jet tempur Rafale memiliki mesin kembar M88-2 yang masing-masing mampu menghasilkan tenaga hingga 50 kilonewton (11.000 pound-force) dari daya dorong kering dan 75 kN (17.000 pound-force) dengan afterburner yang dapat mencapai kecepatan tinggi 1,8 Mach (1912 kmph) dan jangkauan lebih dari 3700 km. Foto : Dassault Aviation

Jet tempur Rafale dapat membawa muatan lebih dari 9 ton untuk versi angkatan udara, dengan 13 untuk versi angkatan laut. Untuk misi strategis, Rafale dapat mengirimkan rudal nuklir MBDA (sebelumnya Aerospatiale) ASMP. Foto : Dassault Aviation