Nenek Tisha menghitung hasil mengamen dengan bass betot di kawasan Curug Sangereng, Kabupaten Tangerang, Selasa (19/2). Bass betot memiliki tiga senar yang terbuat dari karet dan berbentuk persegi. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

Seorang waria, Nenek Tisha, menunjukan giginya yang telah rapuh di kawasan Curug Sangereng, Kabupaten Tangerang, Selasa (19/2). Nenek Tisha biasanya memainkan bass betot keluar masuk kampung untuk menghibur warga. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

Nenek Tisha menerima uang usai memainkan bass betot, Curug Sangereng, Kabupaten Tangerang, Selasa (19/2). Jumlah waria di Indonesia sekitar 7 juta dan setiap tahun diperkirakan terus meningkat serta keberadaannya masih dipandang sebelah mata oleh pemeritah. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

Nenek Tisha (kiri) serta ayu memainkan bass betot di depan para warga Curug Sangereng, Kabupaten Tangerang, Selasa (19/2). Bass betot memiliki tiga senar yang terbuat dari karet dan berbentuk persegi.TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

Nenek Tisha serta Ayu memainkan bess betot di depan para warga Curug Sangereng, Kabupaten Tangerang, Selasa (19/2). Nenek Tisha dan Ayu keluar masuk kampung untuk menghibur warga menggunakan bass betotnya. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

Nenek Tisha serta Ayu keluar masuk kampung untuk memainkan bass betot, di Curug Sangereng, Kabupaten Tangerang, Selasa (19/2). Jumlah waria di Indonesia sekitar 7 juta dan setiap tahun diperkirakan terus meningkat serta keberadaannya masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat