Pekerja berpose dengan sisa bahan limbah tekstil di Jakarta, 25 Desember 2019. Seorang pengepul berpose dengan sisa kain tekstil yang telah terpotong-potong di tempat penampungan miliknya di kawasan Jakarta Utara. Potongan kain tersebut menjadi cerminan dari iklim perilaku kapitalis di industri "fast fashion" dan budaya konsumtif manusia sehingga menyebabkan sampah over-konsumsi. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA

Model memperagakan busana pada acara Fashion Rock 2020 di dalam MRT, Jakarta, 31 Januari 2020. Fast fashion lebih kurang diterjemahkan sebagai busana murah dengan waktu edar singkat dengan model berlimpah yang mengikuti tren terbaru. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA

Warga memilih baju yang didiskon di pusat perbelanjaan di Jakarta, 24 Desember 2019. Menurut penulis buku Overdressed: The Shockingly High Cost of Cheap Fashion, Elizabeth Cline, keterjangkauan harga dan cepatnya produksi model busana terbaru membuat pergeseran nilai guna dari pakaian menjadi menomorsatukan nilai tanda sebagai bentuk identitas sosial. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA

Pekerja menyelesaikan jahitan celana jeans di sebuah industri konveksi di Jakarta, 27 Desember 2019. Produsen fast fashion dapat memproduksi hingga 42 model fashion dalam waktu 1 tahun, sehingga dapat berakibat pada kelebihan produksi yang berujung pada pembakaran stok pakaian tidak terjual, seperti yang dilakukan oleh retailer H&M pada 2017 (sekitar 19 ton atau setara 50.000 jeans) dan stok Burberry pada 2018 (senilai 38 juta dolar AS). ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA

Pekerja memilah limbah sisa kain di tempat pengepul limbah tekstil, Jakarta, 4 Februari 2020. Laporan dari Ellen McArthur Foundation mengatakan industri tekstil saat ini masih menggunakan cara usang yaitu dengan model ekonomi linier (buat-gunakan-buang). Cara itu menghasilkan timbunan limbah dan polusi dari bisnis busana sedunia (diperkirakan mencapai nilai US$500 miliar per tahun). ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA

Manekin diletakkan dekat tumpukan limbah tekstil di Jakarta, 25 Desember 2019. Tingginya bisnis fashion akan menjadi ancaman serius bagi lingkungan. Untuk itu masyarakat diharap dapat mengubah sifat konsumtifnya dalam berbusana sementara pemerintah harus mendesain ulang model industri ekonomi tekstil, berdasarkan prinsip ekonomi sirkular yang ramah lingkungan. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA