Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono saat memaparkan penemuan "drone" bawah laut yang ternyata "seaglider" untuk riset bawah laut di Pushidrosal, Jakarta, Senin, 3 Januari 2021. Seaglider tersebut tersebut ditemukan nelayan di perairan Selayar, Sulawesi Selatan. ANTARA/HO-TNI AL

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengatakan seaglider bisa digunakan untuk pengumpulan data oseanografi secara otonom dan mendukung riset di bawah permukaan laut. ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT

Potongan video yang dari TNI AL saat memperlihatkan sebuah Seaglider atau drone bawah laut yang ditemukan di perairan Selayar, Sulawesi Selatan. BSeaglider dengan panjang 2,25 meter dan memiliki dua sayap yang masing-masing berukuran 0,5 meter ditemukan di perairan Desa Majapahit Kecamatan Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar Provinsi Sulawesi Selatan pada 26 Desember 2020 pukul 07.00 WITA dalam kondisi mengapung di permukaan laut. Foto/Video/Twitter/TNI AL

Menurut Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono, seaglider memang bisa untuk berbagai kepentingan, mulai dari kepentingan industri, survei, hingga kepentingan militer, karena kemampuannya dalam memetakan kondisi tertentu. Foto/Video/Twitter/TNI AL

Deputi Kepala Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR) BPPT Wahyu W Pandoe menuturkan ada dua jenis yaitu seaglider dan argo float. Kedua jenis itu tidak mempunyai propulsi, dan bekerja sinking-floating (tenggelam-mengambangnya) hanya berdasarkan buoyancy (kemampuan mengapung). Foto/Video/Twitter/TNI AL