Seorang wanita pengungsi Rohingya berinisial R (13), menutupi wajahnya saat berada di tenda kamp pengungsian Kutupalong di Bangladesh, 19 November 2017. Tim investigasi Associated Press melakukan waawancara pada 29 wanita Rohingya yang telah mengalami pemerkosaan oleh tentara Myanmar. AP

Seorang wanita pengungsi Rohingya berinisial F (22), yang merupakan korban dari pemerkosaan tentara Myanmar pada Juni dan September lalu yang sekarang sedang mengandung di kamp pengungsian Kutupalong, Bangladesh, 20 November 2017. Kelompok tentara menyerbu masuk ke dalam rumah, memukuli anak-anak dan memperkosa para wanita. AP

Seorang wanita pengungsi Rohingya berinisial N (17), yang merupakan korban pemerkosaan tentara Myanmar pada Agustus lalu saat berada di tenda pengungsian Kutupalong, Bangladesh, 22 November 2017. Wanita yang diperkosa umurnya berusia antara 13 sampai 35 tahun, berasal dari sejumlah besar desa di negara bagian Rakhine di Myanmar. AP

Seorang wanita pengungsi Rohingya berinisial A (20), merupakan ibu satu anak yang menjadi korban pemerkosaan oleh tentara Myanmar pada Agustus lalu, menutupi wajahnya saat berada di kamp pengungsian Kutupalong, Bangladesh, 22 November 2017. PBB berpendapat bahwa angkatan bersenjata Myanmar secara sistematis menggunakan pemerkosaan sebagai "alat penghitung teror" yang bertujuan untuk membasmi orang-orang Rohingya. AP

Seorang wanita pengungsi Rohingya berinisial M (35), ibu dari tiga anak yang menjadi korban pemerkosaan oleh tentara Myanmar pada Agustus lalu saat berada di tenda kamp pengungsian Kutupalong, Bangladesh, 19 November 2017. Wanita pengungsi Rohingnya termuda yang menjadi korban pemerkosaan tentara Myanmar berusia 9 tahun. AP

Seorang wanita pengungsi Rohingya berinisial D (30), ibu yang telah kehilangan anaknya dan juga menjadi korban pemerkosaan tentara Myanmar pada Agustus lalu saat berada di kamp pengungsian Kutupalong, Bangladesh, 20 November 2017. AP