Rabu, 19 Desember 2018

Seawall Aketo yang rusak pada tsunami 2011 terlihat di desa Tanohata, Prefektur Iwate, Jepang, 1 Maret 2018. Jepang kembali membangun desa ini, tujuh tahun setelah diguncang bencana gempa bumi dan tsunami. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

'Miracle Pine', sebuah pohon yang dikatakan melambangkan harapan dan pemulihan pasca tsunami 2011, berada di samping bangunan yang rusak di Rikuzentakata, Prefektur Iwate, Jepang, 3 Maret 2018. Bencana ini menewaskan sekitar 18.000 warga Jepang. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

Seorang buruh bekerja di sebuah lokasi konstruksi tembok laut atau Seawall sedang dibangun di kota Taro, Prefektur Iwate, Jepang, 2 Maret 2018. Dinding beton setinggi 12,5 meter akan menggantikan pemecah arus 4 meter yang tenggelam dalam bencana 11 Maret 2011. REUTERS

Seawall Aketo yang rusak akibat tsunami tahun 2011 ini terlihat dari tembok laut yang baru dibangun di desa Tanohata, Prefektur Iwate, Jepang, 1 Maret 2018. Sejak bencana tersebut, beberapa kota melarang pembangunan di dekat pantai dan telah memindahkan penduduk ke tanah yang lebih tinggi. REUTERS

Seorang nelayan menyirami tiram di atas kapal, yang dia panen dari peternakan tiram di Teluk Hirota di Rikuzentakata, Prefektur Iwate, Jepang, 4 Maret 2018. Pembangunan Seawalls atau tembok laut bertujuan menghentikan tsunami atau setidaknya memperlambat laju gelombang. REUTERS

Rumah-rumah dan bangunan komersial berdiri di belakang tembok laut di pelabuhan Miyako, Prefektur Iwate, Jepang, 2 Maret 2018. Sekitar 395 km tembok laut dibangun mengelilingi pantai untuk menghadang gelombang tsunami. REUTERS