Polisi Bubarkan Ribuan Pendemo Anti-pemerintah di Bangkok, Thailand

Pendemo terlibat bentrokan dengan petugas polisi selama protes anti-pemerintah, di Bangkok, Thailand, Jumat, 16 Oktober 2020. Polisi Thailand menembakkan meriam air ke ribuan pengunjuk rasa pada hari Jumat dalam demonstrasi menentang pemerintah Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha, mantan pemimpin junta. REUTERS/Soe Zeya Tun
Pendemo terlibat bentrokan dengan petugas polisi selama protes anti-pemerintah, di Bangkok, Thailand, Jumat, 16 Oktober 2020. Polisi Thailand menembakkan meriam air ke ribuan pengunjuk rasa pada hari Jumat dalam demonstrasi menentang pemerintah Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha, mantan pemimpin junta. REUTERS/Soe Zeya Tun

17 Oktober 2020 00:00 WIB

Petugas menyemprotkan meriam air kepada pendemo selama protes anti-pemerintah, di Bangkok, Thailand, Jumat, 16 Oktober 2020. Kericuhan hari ini disebut menjadi yang terburuk seiring dengan meningkatnya eskalasi kekerasan kepada pendemo anti-pemerintah selama tiga bulan terakhir. REUTERS/Jorge Silva
Petugas menyemprotkan meriam air kepada pendemo selama protes anti-pemerintah, di Bangkok, Thailand, Jumat, 16 Oktober 2020. Kericuhan hari ini disebut menjadi yang terburuk seiring dengan meningkatnya eskalasi kekerasan kepada pendemo anti-pemerintah selama tiga bulan terakhir. REUTERS/Jorge Silva

17 Oktober 2020 00:00 WIB

Seorang pria mendorong barisan petugas polisi selama protes anti-pemerintah, di Bangkok, Thailand, Jumat, 16 Oktober 2020. Para pengunjuk rasa nekat menentang hari kedua pemberlakuan larangan pemerintah untuk berkumpul di Ibu Kota Bangkok, serta berhadapan dengan polisi yang maju dengan tongkat dan tameng anti huru hara. REUTERS/Jorge Silva
Seorang pria mendorong barisan petugas polisi selama protes anti-pemerintah, di Bangkok, Thailand, Jumat, 16 Oktober 2020. Para pengunjuk rasa nekat menentang hari kedua pemberlakuan larangan pemerintah untuk berkumpul di Ibu Kota Bangkok, serta berhadapan dengan polisi yang maju dengan tongkat dan tameng anti huru hara. REUTERS/Jorge Silva

17 Oktober 2020 00:00 WIB

Orang-orang menunjukkan hormat tiga jari selama protes anti-pemerintah, di Bangkok, Thailand, Jumat, 16 Oktober 2020. Aksi protes yang dipimpin para pemuda telah berkembang menjadi tantangan terbesar selama bertahun-tahun bagi kekuasaan yang didominasi oleh tokoh militer dan Istana Kerajaan Raja Maha Vajiralongkorn. REUTERS/Jorge Silva
Orang-orang menunjukkan hormat tiga jari selama protes anti-pemerintah, di Bangkok, Thailand, Jumat, 16 Oktober 2020. Aksi protes yang dipimpin para pemuda telah berkembang menjadi tantangan terbesar selama bertahun-tahun bagi kekuasaan yang didominasi oleh tokoh militer dan Istana Kerajaan Raja Maha Vajiralongkorn. REUTERS/Jorge Silva

17 Oktober 2020 00:00 WIB

Seorang demonstran menghadapi petugas polisi saat protes anti-pemerintah, di Bangkok, Thailand, Jumat, 16 Oktober 2020. Hingga saat ini, polisi belum menggunakan kekuatan besar untuk menekan aksi damai yang diikuti puluhan ribu orang, meskipun sekitar 50 demonstran - termasuk beberapa pemimpin - telah ditangkap dalam seminggu terakhir. REUTERS/Soe Zeya Tun
Seorang demonstran menghadapi petugas polisi saat protes anti-pemerintah, di Bangkok, Thailand, Jumat, 16 Oktober 2020. Hingga saat ini, polisi belum menggunakan kekuatan besar untuk menekan aksi damai yang diikuti puluhan ribu orang, meskipun sekitar 50 demonstran - termasuk beberapa pemimpin - telah ditangkap dalam seminggu terakhir. REUTERS/Soe Zeya Tun

17 Oktober 2020 00:00 WIB

Orang-orang menyalakan senter dari ponsel mereka selama protes anti-pemerintah, di Bangkok, Thailand Jumat, 16 Oktober 2020. Pemerintah melarang pertemuan politik lebih dari lima orang pada hari Kamis dan juru bicara polisi mengatakan akan menggunakan meriam air berisi cairan kimia tidak berbahaya secara proporsional untuk membubarkan kerumunan. REUTERS/Soe Zeya Tun
Orang-orang menyalakan senter dari ponsel mereka selama protes anti-pemerintah, di Bangkok, Thailand Jumat, 16 Oktober 2020. Pemerintah melarang pertemuan politik lebih dari lima orang pada hari Kamis dan juru bicara polisi mengatakan akan menggunakan meriam air berisi cairan kimia tidak berbahaya secara proporsional untuk membubarkan kerumunan. REUTERS/Soe Zeya Tun

17 Oktober 2020 00:00 WIB