Tentara wanita yang mengenakan alat pelindung diri (APD) mengangkat jenazah korban COVID-19 ke dalam truk sebelum menuju krematorium, di Kathmandu, Nepal 11 November 2020. Untuk pertama kalinya, tentara wanita Nepal mengangkat jenazah korban COVID-19, dimana wanita menyentuh mayat masih menjadi budaya tabu di Nepal. REUTERS/Navesh Chitrakar

Tentara wanita yang mengenakan alat pelindung diri (APD) mengangkat tubuh jenazah koeban COVID-19 dengan menggunakan tandu di krematorium, di Kathmandu, Nepal 11 November 2020. Tetapi hak-hak perempuan terus meningkat di negara yang mayoritas warganya beragama Hindu itu keluar dari konflik selama satu dekade pada tahun 2006 dan menghapuskan aturan monarki feodalnya dua tahun kemudian. REUTERS/Navesh Chitrakar

Tentara wanita yang mengenakan alat pelindung diri (APD) memberi hormat di depan sejumlah jenazah koeban COVID-19 di krematorium, di Kathmandu, Nepal 11 November 2020. Sejumlah tentara wanita tersebut dikerahkan untuk pertama kalinya ketika negara berpenduduk 30 juta orang itu mencoba mengelola jenazah korban Covid-19 di tengah pandemi yang berkembang. REUTERS/Navesh Chitrakar

Seorang prajurit wanita yang mengenakan alat pelindung diri (APD) mengikuti pelatihan cara menangani jenazah korban COVID-19 di Kathmandu, Nepal, 15 Oktober 2020. Pada hari pertama mereka bekerja bulan lalu, keempatnya memindahkan enam mayat korban Covid-19 dari rumah sakit ke krematorium. REUTERS/Navesh Chitrakar

Kacamata seorang prajurit wanita tertutup uap setelah menangani jenazah korban COVID-19 di Kathmandu, Nepal, 11 November 2020. Juru bicara Angkatan Darat Nepal Shantosh B Poudyal mengatakan pasukan berkekuatan 95.000 itu menempatkan tentara wanita dalam peran baru, bagian dari program untuk memberdayakan mereka. REUTERS/Navesh Chitrakar

Krishna Kumari, seorang sersan berusia 37 tahun, bersama dengan Rachana, seorang kopral berusia 25 tahun, Leela, seorang prajurit berusia 25 tahun, dan Rashmi, seorang kopral berusia 25 tahun, makan sarapan sebelum keluar dari karantina, di tengah penyebaran penyakit coronavirus (COVID-19), di gedung barak tentara di Kathmandu, Nepal 21 November 2020. REUTERS/Navesh Chitrakar