Petani memanen sari madu dari lebah Apis indica di Desa Landono 2, Kecamatan Landono, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, 2 Desember 2020. Madu telah manjadi sumber penghidupan bagi warga Desa Lendono. ANTARA FOTO/JOJON

Kondisi hutan di sekitar kawasan Gunung Landono yang telah ditanami kelapa sawit oleh perusahaan luar di Kecamatan Landono, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, 2 Desember 2020. Pengalaman blusukan hutan dan keahliannya memburu sumber madu, menjadikan warga Desa Lendono membuat sebuah kelompok profesi pemburu madu bernama Margasari yang beranggotakan 21 orang pada tahun 2014. ANTARA FOTO/JOJON

Petani pemburu lebah madu menunjukan tawon gong usai mengambil madunya di kawasan Gunung Landono di Desa Landono 2, Kecamatan Landono, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, 2 Desember 2020. Berburu madu membutuhkan bekal fisik dan keberanian, juga pengetahuan akan kondisi hutan itu sendiri, tak jarang pemburu madu harus berjalan naik turun pegunungan sejauh belasan kilometer untuk memperoleh buruannya. ANTARA FOTO/JOJON

Triono mengenakan pengaman yang dibuatnya sendiri agar terhindar dari sengatan lebah tawong gong saat berada di kawasan Gunung Landono di Desa Landono 2, Kecamatan Landono, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, 2 Desember 2020. Para pemburu madu dilengkapi dengan kemeja panjang, sendal jepit dan parang serta menjahit baju kaos yang telah dipasang jaring di bagian wajah. ANTARA FOTO/JOJON

Triono mengasapi daerah sekitar sarang lebah madu gong di kawasan Gunung Landono di Desa Landono 2, Kecamatan Landono, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, 2 Desember 2020. Selain pakaian yang aman, para pemburu madu juga menggunakan asap dari dedaunan yang dibakar untuk mengusir lebah. ANTARA FOTO/JOJON

Bartono (kiri) dan Triono (kanan) bersiap memanen lebah madu di kawasan Gunung Landono di Desa Landono 2, Kecamatan Landono, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, 2 Desember 2020. Profesi pemburu madu mendapat penghargaan tinggi di hati warga kampung karena sebagian madu hasil buruan dijual murah ke warga untuk memenuhi gizi anak-anak sementara lainnya dijual ke berbagai daerah bahkan ke luar negeri dengan harga mencapai Rp150.000 per kilogram. ANTARA FOTO/JOJON