Burung memakan bangkai ikan yang mati akibat pencemaran lumpur bercampur limbah di Pantai Espirito Santo, Brasil, 23 November 2015. REUTERS/Ricardo Moraes

Pekerja membersihkan bangkai ikan yang mati akibat pencemaran lumpur bercampur limbah di Pantai Espirito Santo, Brasil, 23 November 2015. Bendungan ini berisi limbah tambang bijih besi. REUTERS/Ricardo Moraes

Pandangan udara dari sungai Rio Doce yang mengalirkan lumpur bercampur limbah ke pantai Espirito Santo setelah bendungan miliki perusahaan tambang global, Vale dan BHP Billiton meledak di Regencia Village, Brasil, 23 November 2015. Hingga saat ini, penyebab ledakan bendungan belum diketahui. REUTERS/Ricardo Moraes

Ombak pantai Espirito Santo dicemari lumpur bercampur limbah setelah bendungan miliki perusahaan tambang global, Vale dan BHP Billiton meledak di Regencia Village, Brasil, 23 November 2015. Delapan orang tewas dan 19 orang masih hilang dalam bencana ini. REUTERS/Ricardo Moraes

Perahu melintas di sungai Rio Doce yang mengalirkan lumpur bercampur limbah ke pantai Espirito Santo setelah bendungan miliki perusahaan tambang global, Vale dan BHP Billiton meledak di Regencia Village, Brasil, 23 November 2015. Bendungan limbah pertambangan bijih besi meledak pada 5 November, menyebabkan tanah longsor yang mematikan. REUTERS/Ricardo Moraes

Pandangan udara dari sungai Rio Doce yang mengalirkan lumpur bercampur limbah ke pantai Espirito Santo setelah bendungan miliki perusahaan tambang global, Vale dan BHP Billiton meledak di Regencia Village, Brasil, 23 November 2015. Dua perusahaan tersebut diwajibkan membayar denda awal senilai US$ 66,3 juta atau sekitar Rp 900 miliar. REUTERS/Ricardo Moraes