Pekerja mengecat dinding Hunian Sementara (Huntara) yang sudah siap dihuni di Kelurahan Duyu, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa, 11 Desember 2018. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan Huntara sebanyak 1.200 unit sudah dapat ditempati sebelum Natal 2018. ANTARA/Basri Marzuki

Salah satu blok Hunian Sementara (Huntara) sudah siap dihuni, di Kelurahan Duyu, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa, 11 Desember 2018. Huntara tersebut diperuntukkan bagi korban gempa, tsunami, dan likuifaksi di Palu, Sigi, dan Donggala, sudah dapat ditempati sebelum Natal 2018. ANTARA/Basri Marzuki

Seorang warga lansia pengungsi korban bencana gempa, tsunami dan likuifaksi berada di hunian atau shelter sementara di Kawasan Integrated Community Shelter (ICS) bantuan Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Kelurahan Duyu, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu, 8 Desember 2018. Lembaga kemanusiaan ACT menargetkan pembangunan 5000 unit shelter untuk korban bencana alam di Palu, Donggala, dan Sigi. ANTARA/Mohamad Hamzah

Pengungsi korban bencana gempa, tsunami dan likuifaksi berada di sekitar hunian atau shelter sementara di Kawasan Integrated Community Shelter (ICS) bantuan ACT di Kelurahan Duyu, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu, 8 Desember 2018. Hingga akhir 2018, ACT menargetkan pembangunan awal huntara sejumlah 1000 unit. ANTARA/Mohamad Hamzah

Sebuah meteran listrik pintar terpasang di hunian pengungsi korban gempa, tsunami dan likuifaksi di kawasan Integrated Community Shelter (ICS) yang dibangun oleh ACT di Kelurahan Duyu, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu, 28 November 2018. Selain menjamin ketersediaan listrik, kawasan hunian sementara bagi pengungsi itu juga dilengkapi fasilitas lain diantaranya sarana beribadah, arena bermain bagi anak, air bersih, dan MCK. ANTARA/Mohamad Hamzah