Seorang perawat menimbang Afaf Hussein, bocah berumur 10 tahun, yang mengalami kekurangan gizi, di bangsal perawatan gizi buruk rumah sakit al-Sabeen di Sanaa, Yaman, 31 Januari 2019. Konflik selama empat tahun telah mendorong Yaman menjadi salah satu negara Arab termiskin, dan warganya terancam kelaparan. REUTERS/Khaled Abdullah

Afaf Hussein, bocah berumur 10 tahun yang kekurangan gizi, menerima suntikan di sebuah klinik di Sanaa, Yaman, 14 Februari 2019. Perang yang terjadi di Yaman telah memutus rute transportasi untuk bantuan makanan dan bahan bakar. REUTERS/Khaled Abdullah

Fatima Ibrahim Hadi, 12, yang kekurangan gizi dan beratnya hanya 10kg, duduk di tempat tidur di sebuah klinik di Aslam, di provinsi barat laut Hajjah, Yaman, 17 Februari 2019. PBB mencatat, sekitar 80 persen penduduk Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan. Dua pertiga distrik di negara tersebut terancam kelaparan. REUTERS/Khaled Abdullah

Afaf Hussein, terbaring di dalam gubuk ketika ia menerima suntikan di dekat rumah keluarganya di desa al-Jaraib, di provinsi barat laut Hajjah, Yaman, 20 Februari 2019. Afaf yang memiliki berat badan sekitar 11 kilogram dan menderita hepatitis, yang kemungkinan disebabkan oleh air yang terinfeksi. Afaf terpaksa berhenti sekolah karena kondisinya yang lemah. REUTERS/Khaled Abdullah

Afaf Hussein, yang kekurangan gizi, makan satu kaleng kacang polong yang disediakan untuk kesembuhannya ketika ayahnya Hussein Abdu, 40, dan kerabat dan teman lainnya makan di luar rumah mereka di desa al-Jaraib, di provinsi barat laut Pakistan. Hajjah, Yaman, 19 Februari 2019. Abdu mengatakan Afaf hanya makan buah dan sayuran dan tidak ada produk gandum. REUTERS/Khaled Abdullah

Afaf Hussein, 10, yang kekurangan gizi, menangis ketika menerima suntikan di sebuah klinik di Sanaa, Yaman, 14 Februari 2019. Afaf didiagnosis menderita hepatisis, gizi buruk, retensi air, dan alergi gandum. Afaf menjalani perawatan selama beberapa minggu di pusat kesehatan tersebut. REUTERS/Khaled Abdullah