Perajin memisahkan benang sebelum masuk ke alat tenun saat menyelesaikan selembar kain tenun ikat khas Bali yang disebut Endek di Denpasar, Bali, 13 Januari 2020. Pada tahun 1984 kerajinan kain Endek sempat berjaya. Perusahaan kain tenun pada masa itu mampu menyerap ratusan tenaga kerja dari berbagai umur. Namun seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi, kerajinan tenun khas Bali itu pun berangsur-angsur melorot sekitar tahun 2002. Salah satu faktor anjloknya tenun Endek salah satunya karena banyaknya kain tenun cetak atau modern yang dibuat menggunakan mesin. Antara Foto/Nyoman Hendra Wibowo

Perajin melakukan proses pewarnaan motif pada benang saat menyelesaikan selembar kain tenun ikat khas Bali yang disebut Endek di Denpasar, Bali, 13 Januari 2020. Kendala pembuatan kain endek di zaman sekarang di bagian tenaga kerjanya. Bahkan, saat ini banyak perajin yang berhenti karena sudah tua dan tidak ada regenerasi sehingga menyebabkan jumlah produksi kain endek tradisional pun susah ditingkatkan. Antara Foto/Nyoman Hendra Wibowo

Perajin menyelesaikan pembuatan kain Endek menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) di Denpasar, Bali, 13 Januari 2020. Jika dibandingkan harganya, kain tenun Endek tradisional jauh lebih mahal daripada kain cetak. Kain Endek tradisional bisa memakan waktu hingga sebulan dalam tahap pembuatannya dengan harga jual dari Rp650 ribu hingga Rp1,5 juta per lembar (2,5 meter) tergantung jenis kain dan kerumitan motifnya. Antara Foto/Nyoman Hendra Wibowo

Perajin memilah benang dan pembuatan motif ukiran dalam pengerjaan kain Endek di Denpasar, Bali, 13 Januari 2020. Saat ini usaha pertenunan kain endek di Denpasar mulai dibangkitkan kembali seiring dengan target pemerintah dalam memajukan sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Sebanyak 14 usaha pertenunan tradisional Bali sudah terdaftar di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar. Antara Foto/Nyoman Hendra Wibowo

Pengusaha Tenun Ikat Sekar Jepun, Etmy Kustiyah Sukarsa memasang kain Endek pada manekin, di Denpasar, Bali, 13 Januari 2020. Guna mempromosikan kain tradisional Bali tersebut, Pemkot Denpasar mewajibkan Aparatur Sipil Negara (ASN) mengenakan seragam berbahan kain endek dalam hari tertentu dan sebagai pakaian resmi pada acara-acara formal. Antara Foto/Nyoman Hendra Wibowo

Sejumlah model dari kaum milenial memperagakan rancangan busana berbahan kain Endek dalam Denpasar Fashion Festival di pedestrian sungai Taman Kumbasari, Denpasar, 13 Januari 2020. Pemerintah Kota Denpasar juga menggelar berbagai kegiatan untuk mempromosikan kain tradisional Bali itu dalam upaya pelestarian budaya. Kegiatan tersebut salah satunya adalah peragaan busana dengan melibatkan para remaja atau kaum milenial untuk mempromosikan kain Endek tradisional. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo