Suhananto (30 tahun), penerita gangguan mental duduk di dalam kurungan di kecamatan Jambon, Ponorogo, Jawa Timur, 26 Maret 2016. Lebih dari 400 orang menderita cacat psikososial di Ponorogo. Ulet Ifansasti/Getty Images

Andika (17 tahun), penderita Down syndrome, dimandikan ibunya di desa Sidoarjo, Ponorogo, 25 Maret 2016. Bocah ini mengalami kelumpuhan dan bisu sejak masih bayi. Pemerintah dan warga menyebut incest, malnutrisi dan kekurangan yodium sebagai penyebab penyakit mental di kampung ini. Ulet Ifansasti/Getty Images

Simus (kanan), penderita Down syndrome dan adiknya, Gondek, 50, berdiri di depan rumah mereka di desa Krebet, Ponorogo, 24 Maret 2016. Desa Sidoharjo, Karangpatihan dan Krebet, dijuluki "Kampung Idiot" karena banyak warganya yang mengalami gangguan mental. Ulet Ifansasti/Getty Images

Warga dengan Down syndrome mengikuti sesi keterampilan di 'Rumah Kasih Sayang' di Desa Krebet, Ponorogo, 27 Maret 2016. Sebagian warga kampung ini hidup di bawah garis kemiskinan dengan pengeluaran keluarga Rp 400.000-700.000 per bulan. Ulet Ifansasti/Getty Images

Judi (45), penderita gangguan mental yang telah dipasung selama 16 tahun oleh orang tuanya di Jambon, Ponorogo, 26 Maret 2016. Umumnya para penderita cacat psikososial dipasung, atau dikurung dalam ruang tertutup, yang telah dilarang pemerintah pada 1977, namun masih dilakukan warga. Ulet Ifansasti/Getty Images

Saudara kembar penderita Down Syndrome, Sumaria dan Sumarni (41 tahun), menjalani pelatihan keterampilan lembaga amal 'Rumah Kasih Sayang' di Krebet, Ponorogo, 27 Maret 2016. Menurut Human Rights Watch, lebih dari 57.000 orang pernah dipasung sekali dalam hidup mereka dan sekitar 18.800 saat ini sedang menjalani pasungan. Ulet Ifansasti/Getty Images